Blog tentang Ilmu Keluarga dan Anak

Just another WordPress.com site

KOTA LAYAK ANAK SEBAGAI SEBUAH KEBIJAKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK Mei 6, 2015

Filed under: Uncategorized — kenty martiastuti @ 10:23 am

BAB I. PENDAHULUAN
Kita semua tentu setuju, bahwa anak-anak yang hidup pada saat ini adalah pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang. Mereka yang juga akan memimpin kita, menggerakkan roda pembangunan dan menentukan arah bahtera bangsa ini. Oleh karena itu, jika kita menginginkan masa depan yang gemilang untuk bangsa ini, maka merupakan suatu hal yang mutlak bagi kita semua untuk mempersiapkan anak-anak generasi penerus ini dengan sebaik-baiknya.
Menurut Convention on the Rights of the Child, suatu bangsa akan menjadi bangsa yang besar jika mereka dapat memberikan perlindungan yang layak pada anak baik kesejahteraan lahir, bathin maupun sosial. Dengan adanya Konvensi Hak Anak ini – yang disahkan oleh Majelis Umum PBB berdasarkan Resolusi 44/23 Tahun 1989 – maka hampir semua bangsa di dunia mengadopsinya, demikian pula dengan Pemerintah Indonesia yang kemudian mengamandemen CRC tersebut dalam Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Dilandasi kesadaran bahwa masa depan masyarakat, bangsa, dan umat manusia ditentukan oleh kesejahteraan anak saat ini, maka pemenuhan hak-hak anak untuk tumbuh dan berkembang mencapai tingkat optimum, serta pengembangan potensi yang dimilikinya menjadi issue yang penting dari semua kalangan. Perhatian, komitmen, dan sumber daya yang tersedia sebagian telah terwujud menjadi tindakan nyata di tingkat individu, kelompok masyarakat, maupun lembaga-lembaga negara, baik di tingkat pusat maupun daerah. Namun demikian, data resmi statistik dan pengamatan kasat mata menunjukkan bahwa pada kenyataannya masih terdapat kesenjangan yang sangat besar antara situasi ideal dengan situasi nyata terhadap penghargaan, pemenuhan, dan perlindungan atas hak-hak anak. Situasi yang secara umum menunjukkan bahwa akumulasi energi masyarakat dan negara yang dikerahkan masih belum cukup efektif untuk menciptakan dukungan kehidupan dan lingkungan ramah anak, yang dapat menjamin optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan semua.
Indonesia masih memiliki kompleksitas persoalan anak yang hingga saat ini belum terselesaikan secara menyeluruh dan komprehensif. Kita bisa melihatnya betapa banyaknya anak-anak yang mengalami gizi buruk, anak-anak yang hidup dengan HIV/AIDS, anak-anak cacat, anak-anak yang harus bekerja siang dan malam, anak-anak yang menjadi prostitusi dan objek pornographi, anak-anak yang hidup dalam penjara-penjara yang kumuh, kotor dan berdesak-desakan, dan sejumlah masalah anak lainnya yang dengan sangat mudah kita bisa jumpai.
Karena itu, harus ada komitmen yang sungguh-sungguh untuk mereduksi persoalan anak tersebut, komitmen saja belum cukup tetapi juga dibarengi dengan implementasi dari komitment. Karena itu beberapa rekomendasi penting untuk dipertimbangkan dalam upaya memberikan perlindungan anak yang menyeluruh di Indonesia termasuk membangun sistem dan mekanisme perlindungan anak yang harus bekerja secara rapi dan transparan di masyarakat yang didukung dengan sistem kesejahteraan sosial dan kesehatan dan penegakan hukum.

BAB II. PERLINDUNGAN ANAK
Permasalahan anak yang terjadi di Indonesia merupakan sebuah gunung es yang semakin tinggi, ini bisa dicermati dengan semakin meningkatnya pelanggaran-pelanggaran hak anak di Indonesia dari tahun ke tahun. Mulai dari kekerasan terhadap anak, ekploitasi, deskriminasi, perdagangan anak sampai pada perlakuan salah lainnya. begitu kompleks dan memprihatinkan kehidupan anak-anak di Indonesia, ditambah lagi belum adanya penanganan yang komprehensif dan holistik dalam pencegahan pelanggaran hak anak, menjadikan generasi bangsa ke arah persimpangan Lost Nation. diperparah lagi dengan adanya kebijakan negara yang tumpang tindih mengenai kebijakan perlindungan anak di Indonesia semakin terabaikannya pemenuhan dan perlindungan hak anak di negeri ini.
Banyak faktor yang menyebabkan masalah perlindungan anak belum sungguh sungguh dilaksanakan di Indonesia. Perlu dipertimbangkan beberapa catatan yang dikemukakan oleh komite hak anak PBB terhadap upaya perlindungan anak di Indonesia. Ada catatan yang disampaikan oleh komite hak anak PBB tentang masalah penegakan perlindungan anak di Indonesia, sehingga sampai saat ini “rapor” kita masih buruk di mata Komite Hak Anak PBB terutama menyangkut masalah diskriminasi pada anak berdasarkan jenis kelamin khususnya dalam bentuk perkawinan. Indonesia masih membedakan batas usia perkawinan, untuk laki-laki 19 tahun sedangkan untuk perempuan 16 tahun. Ini menunjukan bahwa negara masih memberikan diskriminasi bagi anak perempuan, diskriminasi juga masih terlihat pada anak-anak yang hidup dalam kemiskinan dan anak-anak yang menjadi kelompok minoritas.
Terkait dengan penerapan UU No. 3/1997 tentang Peradilan Anak, maka patut menjadi perhatian kita semua bahwa besarnya jumlah anak-anak yang dihukum penjara di Indonesia. Menurut catatan UNICEF (2009) jumlahnnya telah mencapai lebih dari 4000 orang anak per tahun. Padahal sebagian besar dari mereka adalah melakukan kejahatan ringan. Anak-anak juga sering ditahan bersama orang dewasa dalam kondisi yang mengenaskan, disamping itu batas usia tanggung jawab kriminal yaitu usia 8 tahun adalah terlalu rendah.
Sejumlah masalah anak yang disebutkan di atas tentunya bukan tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah Indonesia. Banyak hal yang sudah dilakukan baik itu kebijakan, upaya konkrit yang sudah di implementasikan, berbagai regulasi dan legislasi, perencanaan dan penganggaran serta pembentukan kelembagaan yang bisa mengatasi masalah anak secara lebih sistematis.
Pemerintah Indonesia sejak tahun 1990 telah meratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keppres 36/1990. Ratifikasi ini merupakan tonggak awal dari perlindungan anak di Indonesia. Selanjutnya pasca diratifikasinya Konvensi ini, disusunlah berbagai upaya untuk memetakan berbagai persoalan anak baik dilakukan oleh Pemerintah sendiri maupun bekerjasama dengan berbagai lembaga PBB yang memiliki mandat untuk melaksanakan perlindungan anak.
Selanjutnya tahun 1997 Indonesia telah memiliki undang-undang khusus yang mengatur masalah anak yang berkonflik dengan hukum, Undang-Undang No. 3/1997 memberikan perhatian dan spesikasi khusus bagi anak-anak yang disangka melakukan tindak pidana, undang-undang ini juga memberikan kekhususan baik dalam penyidikan, penahanan, penuntutan, peradilan hingga penempatan di lembaga pemasyarakatan anak.
Sebagai puncak dari upaya legislasi adalah lahirnya Undang-undang No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Undang-undang ini memberikan nuansa yang lebih komprehensif dalam upaya negara memberikan perlindungan pada anak di Indonesia. Selanjutnya nomenklatur perlindungan anak dimasukkan dalam APBN sehingga memberikan jaminan bagi upaya perlindungan dan kesejahteraan anak-anak Indonesia.
Selanjutnya, undang-undang ini memberikan mandat untuk membentuk Komisi Perlindungan Anak (KPAI). KPAI sebagai insitusi independent diberikan mandat untuk melakukan pengawasan pelaksanaan upaya perlindungan anak yang dilakukan oleh institusi negara, melakukan investigasi terhadap pelanggaran hak anak yang dilakukan negara, KPAI juga bisa memberikan saran dan masukkan serta pertimbangan secara langsung kepada Presiden tentang berbagai upaya perlindungan anak. Kehadiran lembaga ini sebenarnya sangat strategis karena bisa mempercepat upaya upaya perlindungan anak yang menyeluruh dan kompleks.
Puncaknya adalah pada Kabinet Indonesia bersatu jilid kedua , Presiden memberikan perhatian secara khusus pada masalah anak dengan merubah nama Kementerian Pemberdayaan Perempuan menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

BAB. III. SITUASI ANAK DI INDONESIA
Berdasarkan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pada Bab I Ketentuan Umum, pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Hasil Sensus Penduduk tahun 2000 menunjukkan bahwa proprosi jumlah anak dan remaja berusia 0-14 tahun mencapai hampir 30 persen dari total penduduk, dan dengan menambahkan jumlah anak yang berusia 15-18 tahun, jumlah anak secara keseluruhan lebih dari 1/3 jumlah total penduduk Indonesia.
Berdasarkan status gizinya, anak-anak di Indonesia (2005) sebagian besar memiliki status gizi Normal (68,48%), dengan status gizi yang lebih baik untuk anak di perkotaan yaitu 71,30% dan pedesaan 66,87%, namun persentasi gizi kurang dan gizi buruk masih relatif tinggi yaitu masing-masing 19,24% dan 8,80% (lihat Tabel Lampiran 1).
Menurut Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial (2008), di seluruh Indonesia terdapat 3.940.300 anak terlantar usia di atas lima tahun, sedang jumlah balita 1.467.000. Menurut Mensos Bachtiar Chamsyah, di Jakarta terdapat 190.369 anak terlantar, sedangkan menurut data yang diterima Kompas.com dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, jumlah anak penyandang masalah kesejahteraan sosial (usia 0-18 tahun) di Indonesia per Desember 2009 mencapai 4.656.913 jiwa atau setara dengan jumlah penduduk negeri jiran, Singapura.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, 25% dari anak-anak Indonesia mulai usia 3 hingga 15 sudah mulai coba-coba merokok, dengan 3,2% dari mereka merupakan perokok aktif. Sementara, jumlah persentase anak usia 5-9 tahun yang sudah merokok meningkat dari 0,4% pada 2001 menjadi 2,8% pada 2004.
Saat ini jumlah anak-anak yang berada dalam situasi sulit berdasarkan data dari Kementerian Sosial RI adalah sebanyak 17,7 Juta (Kompas, 23 Februari 2010). Anak-anak yang berada di dalam situasi sulit ini meliputi juga anak-anak yang telantar, anak-anak yang dieksploitasi dan anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus termasuk anak cacat, anak-anak yang berada di dalam lembaga pemasyarakatan, anak-anak yang berada di dalam panti asuhan dan juga anak-anak yang bekerja di sektor formal maupun informal. Dari jumlah anak-anak yang berada dalam situasi sulit ini kemampuan negara untuk mengatasinya hanya 4% setahun atau lebih kurang 708.000 anak, ini artinya negara baru mampu menyelesaikan masalah anak anak yang berada dalam situasi sulit ini selama 25 tahun atau seperampat abad ke depan.
Ada beberapa fakta yang cukup memprihatinkan. Diperkirakan sekitar 60 persen anak balita Indonesia tidak memiliki akte kelahiran. Lebih dari 3 juta anak terlibat dalam pekerjaan yang berbahaya. Bahkan, sekitar sepertiga pekerja seks komersil berumur kurang dari 18 tahun. Sementara 40.000-70.000 anak lainnya telah menjadi korban eksploitasi seksual. Ditambah lagi sekitar 100.000 wanita dan anak-anak diperdagangkan setiap tahunnya. Belum lagi 5.000 anak yang ditahan atau dipenjara dimana 84 persen di antaranya ditempatkan di penjara dewasa.
Masalah lain yang tak kalah memprihatinkan adalah pelecehan terhadap anak terutama anak-anak dan wanita yang tinggal di daerah konflik atau daerah bekas bencana. Lebih dari 2.000 anak tidak mempunyai orang tua. Secara psikologis anak-anak itu terganggu sesudah bencana tsunami meluluhlantakkan Aceh dan Sumatra Utara pada 26 Desember 2004 silam.

BAB IV. KABUPATEN/KOTA LAYAK ANAK
1. PENGERTIAN
Gagasan Rumah Layak Anak diawali dengan penelitian mengenai “Childrens Perception of the Environment” oleh Kevin Lynch di empat kota, yakni Melbourne, Warsawa, Salta, dan Mexico City, tahun 1971-1975. Hasil penelitian itu menunjukkan, lingkungan kota yang terbaik untuk anak adalah yang mempunyai komuniti yang kuat secara fisik dan sosial. Komuniti yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas, serta memberi kesempatan anak untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan dan dunia mereka.
Penelitian itu dilakukan dalam kaitan program “Growing Up in Cities: GUIC” (tumbuh kembang di perkotaan), yang disponsori UNESCO. Salah satu tujuan GUIC adalah mendokumentasikan persepsi dan prioritas anak sebagai basis program peran serta bagi perbaikan kota, dimana hal ini merupakan penjabaran dari “World Fit For Children” yang dicanangkan pada tahunn 2002. Anak adalah investasi masa depan yang perlu dipersiapkan dengan mengembangkan kebijakan untuk anak. Oleh karena itu dilakukan advokasi kepada pihak pembuat kebijakan sepeti gubernur, bupati atau walikota untuk sama-sama mempersiapkannya.
The Child Friendly Cities merupakan proyek UNICEF yang mengarahkan sebuah kota, atau lebih umum sistem pemerintahan daerah berkomitmen untuk memenuhi hak-hak anak, termasuk hak mereka untuk:
• Mempengaruhi keputusan tentang kota
• Mengekspresikan pendapat mereka di kota yang mereka inginkan
• Berpartisipasi dalam keluarga, masyarakat dan kehidupan sosial
• Menerima layanan dasar seperti perawatan kesehatan dan pendidikan
• Memperoleh air minum yang aman dan memiliki akses terhadap sanitasi yang layak
• Dilindungi dari eksploitasi, kekerasan dan pelecehan
• Berjalan dengan aman di jalan-jalan
• Menemui teman dan bermain
• Memperoleh ruang hijau untuk tanaman dan hewan
• Tinggal di lingkungan yang tidak tercemar
• Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan budaya dan sosial
• Menjadi warga kota yang memiliki akses sama terhadap setiap layanan yang ada, terlepas dari asal-usul etnis, agama, pendapatan, jenis kelamin atau cacat
Seorang anak dari sebuah kota yang layak adalah perwujudan dari Konvensi Hak Anak di tingkat lokal, yang dalam prakteknya berarti bahwa hak-hak anak-anak tercermin dalam kebijakan, peraturan, program dan anggaran. Di kota yang layak anak, anak-anak adalah agen-agen aktif, suara mereka dan pendapat mereka dipertimbangkan dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan.
Indonesia yang telah ikut menandatangani Deklarasi Dunia yang Layak bagi Anak (World Fit For Children) perlu mengembangkan rencana aksi untuk menjadikan kabupaten/kota yang layak anak sebagai bentuk pelaksanaan WFFC.
Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) menurut UNICEF Innocenti Research Centre, adalah kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warga kota. Sebagai warga kota berarti keputusan anak juga mempengaruhi kotanya, baik dalam hal mengekspresikan pendapat mereka tentang kota, maupun berperan dalam kehidupan keluarga, komuniti, dan sosial.
Anak juga berhak untuk menerima pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan, air minum sehat, dan akses terhadap sanitasi yang baik, terlindungi dari eksploitasi, kekejaman dan perlakuan salah. Juga aman berjalan-jalan di jalan, bertemu dan bermain dengan temannya, mempunyai ruang hijau untuk tanaman dan hewan, hidup bebas polusi, berperan dalam kegiatan budaya dan sosial, dapat mengakses setiap pelayanan tanpa memperhatikan suku bangsa, agama, kekayaan, gender dan kecacatan.
Salah satu cara untuk mengoperasionalkan program nasional bagi anak Indonesia adalah melalui sinergitas pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak dalam rangka pemenuhan hak-hak anak melalui sinergitas seluruh program-program peduli anak. Menurut Meutia Hatta Swasono, hal ini perlu dikembangkan untuk mempersiapkan generasi penerus yang andal dan siap menerima estafet kepemimpinan di masa depan.
Kota Layak Anak (KLA) ini, menurut beliau, merupakan kota/kabupaten yang memberi kesan aman, nyaman bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Suasana kondusif ini misalnya ditandai dengan tidak adanya penculikan anak, jalan trotoar yang aman untuk tempat lalu lalang anak di pinggir jalan, tersedianya lampu-lampu penerangan, pengaturan jam belajar anak yang tepat, tersedia tempat bermain anak, di pasar ada tempat menitip anak, atau rumah baca.

2. PEMBENTUKAN KOTA LAYAK ANAK
Untuk menyusun kebijakan perlindungan anak yang holistik tersebut perlu dikembangkan berbagai model pendekatan, strategi pembangunan yang sesuai dengan karakteristik permasalahan anak. Pengembangan kabupaten/kota layak anak (KLA) merupakan salah satu terobosan untuk mengintegrasikan komitmen dan sumberdaya pembangunan dalam rangka memenuhi hak anak, melindungi anak dari tindak kekerasan, pelecehan, eksploitasi dan diskriminasi serta untuk mengembangkan partisipasi anak dalam pembangunan.
Pengembangan kebijakan KLA dimaksudkan untuk memberikan arah dan panduan bagi pemerintah kabupaten/kota dan masyarakat luas dalam membangun suatu lingkungan atau kawasan yang infrastruktur dan perangkat hukumnya layak bagi anak. Dalam lingkungan yang layak anak tersebut, masyarakat dan penduduknya didorong untuk mengembangkan gaya hidup yang ramah terhadap anak (child friendly life style), sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara sehat dan wajar. Hal ini juga merupakan langkah awal mewujudkan visi anak Indonesia yang sehat, tumbuh dan berkembang, cerdas ceria, berakhlak mulia, terlindungi, aktif berpartisipasi dan cinta pada bangsa dan negara Indonesia.
KLA juga merupakan implementasi dari program nasional bagi anak Indonesia (PNBAI) 2015 yang perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pemangku kepentingan. Hal ini bukan saja karena bangsa Indonesia secara internasional terikat oleh berbagai konvensi yang berhubungan dengan hak azasi manusia dan hak anak, tetapi secara historis dan filosofis bangsa kita mempunyai komitmen yang kuat untuk melindungi anak-anak sebagai upaya untuk menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas dimasa mendatang, dan siap untuk menerima estafet kepemimpinan nasional.
Sebagai komitmen negara pihak yang ikut serta menandatangani deklarasi World Fit for Children (WFFC) pada sidang Umum PBB ke-27 tanggal 2 Mei s/d 8 Mei 2002 di New York, Negara RI menyusun sebuah Naskah Rencana Aksi Nasional Untuk Mewujudkan Indonesia Yang Layak Bagi Anak dengan visi:
“Terwujudnya Anak Indonesia yang sehat, tumbuh dan berkembang, cerdas ceria, berakhlak mulia dan terlindungi dari diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan dan aktip berpartisipasi dalam sebuah kebijakan nasional yang di beri nama PROGRAM NASIONAL BAGI ANAK INDONESIA 2015 (PNBAI 2015).”
Ada 4 bidang pokok yang menjadi focus PNBAI 2015 yang mendapat perhatian khusus dalam deklarasi WFC 2002 tersebut, yaitu: Promosi hidup sehat (promoting healthy lives), penyediaan pendidikan yang berkualitas (providing quality education), perlindungan terhadap perlakuan salah (abuse), eksploitasi dan kekerasan (protecting aginst abuse, exploitation and violence) dan penanggulangan HIV/AIDS (combating HIV/AIDS).
Selain itu, WFFC menekankan beberapa prinsip yang mendasari gerakan global menciptakan dunia yang layak bagi anak. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1. Mengutamakan (kepentingan) anak-anak (put the children first);
2. Membasmi kemiskinan, berinvestasi untuk (kepentingan) anak-anak (eradicate poverty: invest in children)
3. Tidak seorang anak pun boleh ditinggalkan dan/atau tertinggal (leave no child behind);
4. Memberikan perhatian dan pengasuhan bagi semua anak (care for ever child);
5. Memberikan pendidikan bagi semua anak (educate every child);
6. Melindungi anak-anak dari segala bahaya dan eksploitasi (protect children from harm and exploitation)
7. Melindungi anak-anak dari peperangan (protect children from war)
8. Memberantas HIV dan AIDS (combat HIV/AIDS)
9. Mendengarkan anak-anak dan pastikan pertisipasi mereka (listen to children and ensure their participation);
10. Melindungi bumi (sumberdaya alam) untuk (kepentingan) anak-anak (protect the earth for children).

VISI PNBAI 2015
Anak Indonesia yang sehat, tumbuh dan berkembang, cerdas-ceria berakhlak mulia, terlindungi, dan aktif berpartisipasi
MISI PNBAI 2015
1. Menyediakan pelayanan kesehatan yang komprehensif, merata dan berkualitas, pemenuhan gizi seimbang, pencegahan penyakit menular termasuk HIV dan AIDS, pengembangan lingkungan dan perilaku hidup sehat.
2. Menyediakan pelayanan pendidikan yang merata, bermutu dan demoktratis bagi semua anak sejak usia dini.
3. Membangun sistem pelayanan sosial dasar dan hukum yang responsive terhadap kebutuhan anak agar dapat melindungi anak dari segal bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.
4. Membangun lingkungan yang kondusif untuk menghargai pendapat anak dan memberi kesempatan untuk berpartisipasi sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.

Kegiatan-kegiatan Pokok PNBAI 2015
1. Memastikan adanya kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang berpihak pada kepentingan anak sebagai bagian dari penguatan sistem hukum dan melaksanakan upaya sosialisasi peraturan perundangan tersebut ke segala lapisan masyarkat
2. Melakukan advokasi kepada lembaga-lembaga legislative, unit-unti perencana, tenaga professional, sektor-sektor terkait dan pihak swasta agar senantiasa mengutamakan program nasional bagi anak dalam rangka pemenuahan hak-hak anak.
3. Mengembangkan peran dan partisipasi kelembagaan masyarakat, termasuk sektor media informasi, swasta dan LSM, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemandirian keluarga, pemberdayaan masyarakat dan kemitraan dengan swasta dalam program nasional bagi anak.
4. Peningkatan kesadaran masyarkat tentang peran dan status perempuan dan keluarga bagi kesehatan anak; bahaya, penanggulangan dan dampak HIV dan AIDS; pendidikan anak, permasalahan penundaan usia perkawinan, masalah kesehatan reproduksi dan jiwa anak serta remaja.
5. Memberikan pelayanan yang bermutu dalam bidang kesehatan, pendidikan, sosial, perlindungan dan pengembangan anak yang menjangkau seluruh lapisan masyakarat termauk anak-anak yang berasala dari daearah terpencil, anak-anak daerah kumuh, anak-anak jalanan dan kelompok anak-anak lain yang masih belum terjangkau pelayanan sosial dasar
Salah satu wujud dari pelaksanaan PNBAI ini antara lain dengan adanya Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Nomor 03 tahun 2009 tentang Pedoman Penilaian Kabupaten./Kota layak Anak. (lihat Lampiran 2).

3. KABUPATEN/KOTA LAYAK ANAK DI INDONESIA
Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan pada awalnya mengembangkan Kota Layak Anak di lima kota, yaitu Sidoarjo, Gorontalo, Jambi, Solo dan Kutai Kertanegara. Kota Layak Anak selanjutnya adalah di Karawang, Padang, Malang, Pontianak dan Aceh. Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak jalanan yang mungkin berharap banyak dengan adanya Kota Layak Anak? Rumah anak buat anak jalanan bisa diartikan rumah singgah. Tapi anak jalanan itu sendiri sebenarnya tidak boleh ada. Oleh karena itu, kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya tidak termasuk kriteria dalam program Kota Layak Anak ini, karena masih banyak ditemui anak-anak jalanan.
Kota-kota yang ditunjuk sebagai Kota Layak Anak ini dianggap telah memenuhi beberapa kriteria yaitu antara lain dapat menuntaskan masalah anak jalanan serta ada keberpihakan hukum dan perlindungan kepada anak secara maksimal dari pemerintahan kotanya.
Sebagai contoh adalah Rumah Pintar Putro Paduko Berhalo Kota Jambi merupakan bukti komitmen stakeholder dalam mengembangkan Kota Layak Anak (KLA) di Jambi dan hal tersebut mendorong sektor lain dalam mendukung KLA melalui antara lain Sentra Agro, Forum Anak, Komisi Perlindungan Anak Daerah Jambi serta membuat Zona Aman Sekolah di SD yang berada ditepi jalan utama dll. Kota Padang Panjang di Sumatra Barat, sebagai contoh lain, juga menjadi salah satu kota yang bebas paparan iklan rokok.
Banjarnegara juga meraih penghargaan Unicef. The United Nations Children’s Fund (Badan PBB soal anak) telah memberikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara karena telah membebaskan biaya pembuatan akte kelahiran. Akta kelahiran anak ini adalah hak dasar yang dimiliki seorang anak yang lahir di dunia di manapun tempatnya. Penghargaan telah diserahkan oleh UNICEF pada peringatan Hari Anak Indonesia (23 Juli 2004) dan diterima oleh Bupati Banjarnegara.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) terus mendorong daerah untuk mewujudkan Kabupaten/ Kota Layak Anak (KLA) yang saat ini berjumlah 40 buah. Dengan cara ini, maka anak akan mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan, penelantaran, eksploitasi, diskriminasi dan perlakuan salah. Targetnya, hingga 2014, akan tercipta 100 KLA.
Lebih jauh Linda menjelaskan, sesuai Peraturan Pemerintah No 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Daerah, urusan perlindungan anak ini menjadi urusan wajib pemerintah daerah.
Sejalan dengan ini, telah dikeluarkan juga Peraturan Pemerintah No 41 Tahun 2007 tentang satuan perangkat daerah, dengan adanya kelembagaan tersendiri yang menangani pe-ngarusutamaan gender, perlindungan perempuan dan anak, serta tumbuh kembang anak di setiap daerah. “Insya Allah anak-anak Indonesia pada umumnya dan anak Aceh pada khususnya bisa tertangani dengan baik,” tutur Linda yang juga kelua harian Gugus Tugas Antitrafficking ini.
“Implementasi kota layak anak ada dalam Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) sampai tahun 2016,” ujarnya seusai Lokakarya Hakim di Hotel Savoy Homann, Bandung, Senin (8/2). Pengembangan KLA ini, kata Linda, sudah menjadi program di beberapa kota di dunia (lihat Lampiran 2). Ada sembilan ratus wali kota di dunia yang mengembangkan KLA. Sementara di Indonesia, baru enam belas kab./kota yang sedang intensif mengembangkan KLA

BAB V. PENUTUP
1. KESIMPULAN
Anak adalah investasi masa depan bagi suatu keluarga dan tentunya bagi suatu bangsa. Mereka adalah calon pemimpin bangsa ini di masa yang akan datang. Oleh karena itu, perlu penanganan yang serius dan terintegrasi secara menyeluruh agar anak-anak ini tumbuh menjadi pribadi yang sehat lahir batin serta mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin berat ini.
Kabupaten/Kota Layak Anak merupakan sebuah usaha nyata untuk dapat memberikan anak-anak, sebuah penghidupan yang layak sehingga mereka dapat tumbuh kembang secara optimal.
Walaupun menurut badan dunia UNICEF , kota-kota di Indonesia belum memenuhi kriteria kepedulian dan keberpihakan kepada anak-anak sehingga belum ada satupun masuk daftar Kota Layak Anak yang ideal, namun harapan selalu ada asalkan setiap pihak memiliki niat baik untuk sama-sama mewujudkannya.

2. SARAN
Sebuah program yang baik bukanlah program yang berdiri sendiri, namun harus merupakan sebuah upaya yang terintegrasi secara menyeluruh karena sebuah masalah tidak mungkin disebabkan oleh sebuah faktor determinan saja. Oleh karena itu, program ini hendaknya melibatkan seluruh pihak dari komponen bangsa ini baik pemerintah pusat, daerah, masyarakat dan keluarga serta kita sendiri sebagai bagian dari keseluruhan bangsa ini.

BAB VI. DAFTAR PUSTAKA

Majalah Gemari Edisi 91/Tahun IX/Agustus 2008

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=14&jd=Perlindungan+Anak+dan+Implementasinya&dn=20091031195157

http://politik.kompasiana.com/2010/04/29/perlindungan-anak-di-indonesia-dan solusinya

http://www.idai.or.id/perlindungananak/artikel.asp?q=2009416121921
http://www.kotalayakanak.org/index.php?option=com_content&view=category&id=67id=86

http://nasional.kompas.com/read/2010/02/17/12463026/Jumlah.Anak.Bermasalah.Indonesia.

http://www.go4healthylife.com/articles/1486/1/Jumlah-Perokok-Anak-di-Indonesia-Mengkhawatirkan/Page1.html

http://answering.wordpress.com/2010/02/09/unicef-belum-satupun-kota-di-indonesia-masuk-daftar-kota-layak-anak/

http://www.kotalayakanak.org/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=48

http://bataviase.co.id/node/199198

http://bataviase.co.id/node/89709

http://www.kotalayakanak.org/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=48

http://www.kotalayakanak.org/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=71

 

Father Involvement Oktober 15, 2010

Filed under: Uncategorized — kenty martiastuti @ 10:36 pm

Dalam kesempatan OBRAS DASI (Obrolan Santai dan Berisi) di AULIA – ISLAMIC CHARACTER BUILDING SCHOOL, Mr. Rothan mengungkapkan bahwa seorang ayah mempunyai peran yang teramat penting dalam menentukan perkembangan seorang anak.  Ia mengatakan banya kasus yang ia temukan di sekolahnya bahwa ternyata anak yang ‘bermasalah’ ternyata anak-anak yang ayahnya kurang atau tidak terlibat dalam pengasuhan.

Pandangannya sebagai orang Bule sebenarnya rada ‘mengejutkan’ juga.  Secara umum yang kita tahu, orang Bule lebih moderat dan cuek pada kehidupan berkeluarga, namun ia mengatakan komitmen ia untuk menikah berarti ia juga harus mampu memberikan kasih sayang dan perhatian untuk istri dan anak-anaknya.  “Kalau saya tidak mau buat itu, saya hidup sendiri saja dari dulu,”ujarnya.  Ia menambahkan bahwa ia dan istrinya yang asli orang Jogja sepakat bahwa istri di rumah mengasuh anak dan urusan rumah tangga paling tidak sampai anak-anak mereka bersekolah.  Namun kenyataannya sampai putra kedua mereka sekolah di play group yang jam sekolahnya 8 – 4 sore, mereka tetap bertahan dalam kondisi sang Ibu tinggal di rumah karena pada saat istirahat siang (sekitar 2 jam), Remy Yusuf Isaac Rothan pulang dan tidur siang di rumah mereka, sehingga bonding dengan ibunya tetap terjaga (keren banget gak sehhh?).  Mr. Rothan juga sangat menikmati profesinya sebagai guru karena ia tetap bisa mengawasi kedua putranya yang bersekolah di tempat ia bekerja.

Seorang Ibu (orang tua siswa kel A) bertanya tentang cara mengajak suami untuk lebih care pada anak.  “Kalau anak nakal, istri yang disalahin.  Kalau rumah berantakan, istri yang disalahin”, ujarnya.  Mr. Rothan yang asli Perancis itu mengatakan bahwa menyalahkan orang lain adalah suatu hal yang sangat mudah dilakukan, apalagi jika kita dalam kondisi capek.  Namun yang harus diingat adalah komitmen itu tadi.  Menurutnya, anak adalah hasil dari kerjasama suami dan istri, maka sudah seharusnya menjadi tanggung jawab ayah ibunya untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka termasuk dalam hal pengasuhan.  Ibu lebih sebagai orang yang sabar dan memberikan curahan kasih sayang, sedangkan ayah sebagai sosok penegak disiplin namun tetap penuh kasih sayang.

Keterlibatan ayah dapat dimulai dari hal yang sederhana.  “Daripada menunggu istri mengangkat bekas piring atau gelas bekas kita makan atau minum, lebih baik bawa sendiri ke dapur.  Abis kadang-kadang bapak-bapak lupa jalan ke dapur, bahkan sampai mungkin ada yang bertanya “memang ada di dapur di rumah ini ya”, selorohnya mengundang tawa kami.  Dari hal-hal kecil itulah, ayah akan terbiasa untuk melakukan kegiatan di rumah dan menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya.

Ia bahkan mengatakan bahwa ayah itu harus terbiasa mencuci piring atau memasak.  Sesekali istri keluar rumah sendiri dan anak-anak di rumah bersama ayah juga termasuk sarannya yang penting untuk menciptakan kedekatan antara ayah-anak.  Asalkan semua dalam kondisi ready, rumah sudah rapi, bahan makanan atau makanan matang sudah tersedia, anak-anak dalam kondisi OK, gak ada salahnya memberikan kesempatan pada ibu untuk menikmati waktunya sendiri.  (Mau gak Buuuu??? Bangetttt, kata ibu-ibu………….he.he…asyik kali ye…)

Ngomong-ngomong soal father involvement ini, jadi inget cerita dosen pembimbing saya, Bu Melly Latifah.  “Mamiku itu,” katanya saat bercerita pada saya, ”gak pernah lho mandiin bayi-bayinya.  Kami semua, yang mandiin itu Papiku.  Nanti kalau kita udah pada bersih dan wangi, Papiku baru ngasih ke Mami supaya Mami bisa menyusui.”  (Hebaattt banget kan??!!).

Apa yang Mr. Olivier Rothan sampaikan tentang keterlibatan ayah dalam pengasuhan ini memang kenyataannya sesuai dengan hasil-hasil penelitian tentang father involvement (keterlibatan ayah).  Menurut beberapa hasil penelitian, anak-anak yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan akan memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik (Nugent, 1991), menjadi anak yang better problem solvers (Easterbrooks & Goldberg, 1984) dan memiliki IQ yang lebih tinggi (Yogman, 1995) serta prestasi akademik yang lebih baik (Goldstein, 1982).

Belum lagi dari segi perkembangan emosional.  Anak-anak yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan terbukti dari hasil penelitian akan memiliki resilient (daya tahan) yang lebih baik dalam menghadapi situasi yang stressful (Parke & Swain, 1975), lebih memiliki rasa ingin tahu terhadap lingkungan (Biller, 1993), lebih memiliki keberanian, mudah mengatur emosi dan lebih mudah beradaptasi (Biller, 1993).

Mau data lagi?  Dari perkembangan sosial, anak-anak yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan akan memiliki hubungan yang lebih positif dengan teman-temannya, menunjukkan emosi negatif yang lebih sedikit (Grossman, 1992) dan mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang lebih toleran dan pengertian (McClelland, 1978).  Long term effects-nya, anak-anak ini akan menjadi orang yang sukses dan dapat bersosialisasi dengan baik serta memiliki kehidupan perkawinan yang baik pula (Rueter & Biller, 1973).

Kayaknya perlu sebuah buku untuk membahas pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak karena memang hasil-hasil penelitian juga mengindikasikan demikian.  Keterlibatan ayah memang bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pencapaian perkembangan seorang anak, namun apa masih mau berkelit jika kita kembalikan pada hakekat kebenaran bahwa anak adalah amanah, dan setiap amanah akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat.

Ayo para ayah….tunggu apa lagi????

 

 

MIMPI ADALAH KUNCI Juli 30, 2010

Filed under: Uncategorized — kenty martiastuti @ 12:20 pm

Semua berawal dari perkenalanku dengan dunia maya di penghujung 2008. Satu per satu orang-orang yang pernah hadir, kenal, dan akrab, kembali terhubung. Pak Ali Khomsan, seorang pakar gizi terkenal, yang dulu menjadi pembimbing akademik waktu aku kuliah di GMSK-IPB, termasuk dalam daftar pencarian orang yang aku lakukan.

Setelah searching beberapa lama, dengan pede aku add seseorang yang bernama Ali Khomsan. Agak ragu memang, karena profile-nya hanya siluet dengan rambut jambul khas face book. Ternyata itulah jalan yang membawaku kembali ke kampus. Pak Ali yang kucari ternyata benar beliau.

Satu hal yang tidak pernah aku lupakan dari Pak Ali adalah kalimat yang diungkapkannya waktu aku baru saja lulus ujian sarjana. Dia begitu antusias menyuruhku langsung ambil S-2, “Bareng Al Suhendra,”katanya waktu itu. Al, temanku itu, sekarang sudah jadi pakar biokimia makanan dan beraktifitas di UNJ. Bagi Pak Ali, kata-katanya mungkin biasa saja, tapi aku menyimpannya terus dalam memoriku dan aku menganggapnya sebagai sebuah doa sekaligus motivasi.

Jujur aja, agak kaget waktu Pak Ali menawarkan aku untuk ketemu dan bahkan memberiku nomer HP untuk bikin deal. Tanpa basa basi, beliau juga membuatkan rekomendasi untuk mendaftarkan diri di Pasca Sarjana IPB. Gak tanggung-tanggung, beliau langsung menghubungi Bu Melly Latifah di ruangannya untuk memberikan aku rekomendasi yang sama. Saat itu juga, aku mendatangi ruangan Bu Melly Latifah, dosenku juga waktu di S-1. Beliau menyambutku dengan sambutan yang luar biasa. Padahal 15 tahun telah lewat, sejak aku lulus dari tempat ini.

Aku ingat sekali, hari itu Kamis tanggal 25 Juni 2009. Sungguh tak kusangka, sambutan orang-orang hebat ini. Bagaikan mimpi di siang bolong, saat itu juga aku mendapat rekomendasi dari 3 dosen sekaligus sebagai persyaratan untuk mendaftar di Pasca Sarjana. Bisakah aku? Padahal hari Selasa 30 Juni 2009 adalah hari terakhir pendaftaran. Sinopsis tesis belum terbayang, dan uang pendaftaranpun tak kelihatan??? Tapi entah kenapa, aku mendapat energi yang begitu besar ketika mendapat respon yang positif seperti ini. Siapa lagi yang campur tangan kalau bukan Allah SWT yang Maha Segalanya…?? Semoga Allah ridho……

Akhirnya, aku ada disini. Seorang pengelola taman kanak-kanak kecil dan guru honorer di SD Negeri Pondok Petir 03, sekolah lagi….. Diantara orang-orang besar dan punya kedudukan, jujur aja, aku merasa begitu kecil…. Walaupun aku belum pernah menghitung secara statistik, umumnya yang ambil pasca sarjana adalah dosen atau orang-orang yang punya karir cemerlang. Tapi rupanya, obsesiku 15 tahun yang lalu, bagai tak punya ruang lagi dalam benakku. Ia butuh tempat untuk berlari dan mengejar mimpinya yang tertinggal. Tak peduli siapa aku dan apakah aku…

Seperti kata Bu Melly, “Kamu guru, kamu hebat, dan jangan bilang ‘cuma guru’!” Ya memang, siapapun orangnya tetap boleh punya cita-cita,,, seperti kata Nidji dalam Laskar Pelangi: …mimpi adalah kunci..untuk kita menaklukkan dunia….berlarilah tanpa lelah..sampai engkau meraihnya…

Tidak ada yang tidak bisa kalau berusaha, tidak ada yang tidak mungkin kalau berjuang. Terimakasih untuk semua yang telah membantuku mewujudkan mimpiku, untuk menjelajah samudra ilmu-NYA. Semoga perahuku sampai ke tujuan. AMIIN.

KAMI BERTUJUH

Kami bertujuh. Angkatan kedua dari Program Master Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak, satu-satunya yang ada di Indonesia. Aku, Kenty Martiastuti, yang tertua di antara teman-teman, adalah pengelola sebuah taman kanak-kanak dan guru honorer di SD Pd Petir 03 Depok. Jabatan terakhir terpaksa aku lepas karena kesibukan kuliah dan tugas-tugas yang menggunung. Anak2ku suka tanya kenapa saya kuliah lagi (pertanyaan sulit, Nak!). Aku selalu bilang, ilmu pasti ada manfaatnya Nak…sekarang..ataupun nanti.. Yang jelas, aku hanya orang kecil yang punya mimpi besar….

Mulyati, dosen luar biasa di UNJ yang tinggal di Ciomas Bogor. Setia kawan banget, suka nalangin kita-kita kalo ada fotokopian dan paling rajin sms atau telpon ke temen-temen. Kadang suka panik kalo ngomongin tugas, karena ngerasa gak punya basic. Tapi akhirnya beres juga sihhh… Tenang aja mbak…kita juga belum selese koq tugasnya..hi..hi..

Dian Novita, dosen di UT Pd Cabe. Pas masuk kuliah di IPB, pas banget dinyatakan positif hamil. Kehamilan yang ditunggu2 setelah 2 sebelumnya tidak berhasil bertahan. Yang lucu, waktu di USG, dede bayi pegang keningnya lho. Pasalnya sebelum USG, mamanya abis ngerjain tugas PIK yang super banyak. Gapapa Dek.. ntar langsung jadi Master yahh!!
Tiap kuliah pulang bareng aku yang searah perjalanannya. Harus kuat yang sayang, karena perjalanan kita hampir 100 km pulang pergi lho…naik turun angkot pula…
Dia yang paling rame diantara kita semua. Makanya gak ada lo gak rame (kayak iklan ajah!!)

Wiwik Gusnita, dosen Universitas Negeri Padang (UNP) yang juga asli Minang, harus rela berpisah dengan Syifa dan Papanya demi tugas negara. Cari ilmu terus Buuu, sampai ke negeri Bogor….he..he.. Paling seneng kalo liat si Uni ngomongin Syifa, matanya pasti langsung berbinar-binar deh. Dia yang paling sering digodain Ilham karena logat Minangnya yang masih kental. (Kualat kamu Ilham!!)

Rahmania Abidin, dosen STKIP di Ambon yang asli orang Bugis ini, paling pendiam diantara kita semua. Beruntungnya Nia, sang suami ambil S-3 juga di IPB jadi mereka sekeluarga boyong ke Kota Hujan, bahkan mengorbitkan seorang Junior di akhir semester 1 kemarin. Selamat ya Nia,, semoga si kecil juga hebat seperti Abi Uminya. Amiin

Puji Handayani, satu-satunya yang masih single fighter di antara kita. Ambil S-1 di kehutanan dan akhirnya nyasar di IKA karena tersesat kayaknya… (tanya jalan ama bang Tarzan dong…Ji…). Termasuk yang paling muda, tapi dia jadi Bu Guru buat kita-kita karena otaknya yang encer (bubur kaleee), terutama untuk mata kuliah Statistik. Orangnya manis, imut dan lembut…tappiii suka dateng galaknya lho kalo ‘murid-muridnya’ susah diajarin.. Aku suka deg-degan kalo nada suaranya mulai meninggi..wahhh ada yang kena semprot nihh. (Jangan galak-galak dong Bu.. kita kan atut jadinya…)

Mohammad Ilham, satu-satunya yang ganteng diantara kita bertujuh. Sebenarnya udah ngambil Master di tempat lain, tapi gak tau juga kenapa jadi tertarik masuk IKA? Mungkin karena pengen jadi ayah yang baik buat Dzakwan kali ya… (so Pasti!!). Ibu-ibu IKA seneng banget nyuruh2 dia, mentang2 cowok sendiri dan paling muda di antara semua ya! Gayanya akademisi banget, dari bicaranya sampai penampilannya. Yang jelas, tiada hari tanpa BATIK.. (jangan2 lemarinya batik semua tuh..he..he..)

Gak terasa udah masuk semester 2 dari 4 semester yang direncanakan. Ayo semangat ya teman-teman, walaupun Bogor sering hujan dan tugas kita kebanyakan… (Kata Bu Euis, gak ada korelasinya tuh…he..he.)
Ini buat seru-seruan aja yah…jangan diambil hati lho… suatu saat pasti kita kangen-kangenan deh.. hiks..hikss
OK….DO YOUR BEST! LUV U ALL…………..

 

Tipe Keluarga Campuran

Filed under: Uncategorized — kenty martiastuti @ 12:18 pm

TIPE  KELUARGA  CAMPURAN

PENDAHULUAN

Definisi keluarga menurut Duvall adalah merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota.  Sedangkan menurut Bailon dan Maglaya, keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya.

Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa keluarga pada hakekatnya adalah suatu kelompok dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan, darah dan adopsi serta berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan sosial bagi suami, istri dan anak-anak.

Sebagai unit terkecil dalam suatu masyarakat, peranan keluarga sangatlah penting dan vital bagi setiap bangsa karena keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam melakukan tugas pendidikan bagi individu-individu yang ada di dalamnya.  Individu yang lahir dan terdidik dari sebuah keluarga yang “sehat” tentu akan menjadi bahan bakar yang baik bagi berlangsungnya roda peradaban suatu bangsa.

TIPE KELUARGA

Setiap keluarga tentu mempunyai karakteristik  masing-masing.  Karakteristik ini dapat dibedakan berdasarkan menjadi karakteristik sosialnya seperti pendidikan, pekerjaan, status sosial.  Ada juga yang dibedakan berdasarkan karakteristik ekonomi seperti besar  pendapatan yang diperoleh atau jumlah aset yang dimiliki.  Karakteristik demografi juga dapat menjadi pembedanya seperti jumlah anak, umur orang tua dan tempat tinggal.

Berdasarkan tempat tinggalnya, keluarga dapat dibedakan menjadi keluarga yang patrilokal, matrilokal dan selain patri/matrilokal (mandiri).

Ada juga pembagian tipe keluarga berdasarkan ukuran atau struktur yaitu keluarga inti dan keluarga bersama (campuran) http://www.sociologyguide.com/marriage-family-kinship/Types-of-the-family.php

PENGERTIAN KELUARGA CAMPURAN

Menurut Kristy Jackson, Keluarga Campuran adalah kebalikan dari Keluarga Inti Tradisional.  Keluarga Inti Tradisional terdiri dari pasangan yang menikah dan anak kandung mereka.  Anak dalam keluarga ini, tinggal dengan kedua orang tua kandungnya.  Tidak ada orang lain yang ada dalam rumah mereka baik itu saudara/anak tiri, anak angkat/adopsi, dan lainnya.  Sedangkan Keluarga Campuran adalah terdiri dari paling tidak satu orang tua tiri (step-parent), step-siblings (keduanya tiri) atau salah satunya tiri dan lainnya kandung (half-siblings).

http://www.csus.edu/indiv/k/kawamoto/downloadable/50jackson1.htm

Definisi Keluarga Campuran menurut Johnson adalah keluarga yang memiliki paling tidak satu orang tua yang telah menikah sebelumnya dan memiliki anak dari salah satu atau kedua orang tersebut dari hubungan sebelumnya (Johnson, 2000, p;119). atau dengan kata lain duda atau janda (karena perceraian) yang menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya (Boy Antoni Putra dalam http://bared18.blogspot.com/2009/01/konsep-keluargaa.html).  Ada juga yang mendefinisikan sebagai keluarga tiri/stepfamilies (ElizaBeth A. Carver, Psy.D., L.P.), sedangkan menurut (Barker, 2003, p. 46), Keluarga Campuran terbentuk dari pernikahan seseorang yang pernah menikah sebelumnya.

PERUBAHAN DESKRIPSI TIPE KELUARGA YANG MEMPENGARUHI DEFINISI KELUARGA CAMPURAN

Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi perubahan yang cukup berarti dalam wajah sebuah keluarga.  Perubahan-perubahan tersebut pada akhirnya melahirkan definisi-definisi baru tentang keluarga.

Berikut ini adalah sebagian dari data yang menunjukkan adanya perubahan-perubahan konsep dalam keluarga:

*  Sejak tahun 1975, tingkat perceraian mengalami peningkatan, sehingga makin banyak pula keluarga dengan orang tua tunggal, atau keluarga yang orang tuanya menikah lagi sehingga membentuk apa yang dinamakan Keluarga Campuran.

*  Berdasarkan data yang diperoleh Canadian Census ada sebanyak 27.3 persen orang tua tunggal dengan anak-anak mereka yang berusia di bawah 18 tahun.  Jumlah ini terdiri dari 2.1 juta kombinasi ayah-anak dan 9.8 juta ibu-anak (dalam http://www.edu.pe.ca/southernkings/familytypes.htm)

* Di Washington Amerika Serikat, jumlah rumah tangga dengan pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan meningkat dari 4.6% pada tahun 1990 menjadi 11.8% pada tahun 2000

*  Jumlah rumah tangga dengan pasangan yang hidup bersama tanpa nikah ini mencapai jumlah 5% dari seluruh rumah tangga di Amerika Serikat pada tahun 2000 (http://www.divorcerate.org/)

*  Di Amerika Serikat pada tahun 2000, sekitar 50% pasangan yang menikah pada akhirnya mengalami perceraian dan sebanyak 40% kelahiran berasal dari pasangan yang hidup bersama tanpa nikah.

Perubahan-perubahan seperti inilah yang akhirnya membuat deskripsi tentang keluarga mengalami  perubahan yang berarti, termasuk juga dengan istilah “Keluarga Campuran”.

Menurut Cynthia Peterson, sekarang ini gambaran tentang tipe keluarga sangat  bervariasi sedemikian rupa sehingga istilah ” keluarga campuran” dapat mengacu pada berbagai macam situasi.

Saat ini, yang termasuk dalam Keluarga Campuran adalah suatu keluarga yang meliputi:

1.  Keluarga Multibudaya

Keluarga Multibudaya adalah keluarga yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.  Menurut Jannie Carter dalam http://www.aces.edu/urban/metronews/vol2no1/nontrad.html,  Keluarga Multibudaya (Multicultural Families) biasa disebut juga dengan Keluarga Multirasial (Multiracial Families) yang keberadaannya cukup signifikan dalam dekade terakhir ini..

2.  Keluarga dengan kombinasi dari anak kandung dan anak adopsi

Keluarga tipe ini selain memiliki anak kandung, juga memiliki anak adopsi sebagai anggota keluarga.

3.  Keluarga Asuh  (Foster Family)

Foster family adalah keluarga yang menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara di dalam waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya .(Boy Antoni Putra dalam http://bared18.blogspot.com/2009/01/konsep-keluargaa.html), sadangkan menurut Jannie Carter, Foster family memberikan support kepada anak-anak dalam waktu sementara di sebuah tempat (panti) yang ditunjuk oleh pengadilan atau agen pemerintah lainnya (http://www.aces.edu/urban/metronews/vol2no1/nontrad.html)

4.  Keluarga Tiri

Keluarga dengan anak tiri (stepfamilies) inilah yang pada awalnya merupakan definisi dari keluarga campuran, dimana keluarga tersebut memiliki anak yang berasal dari perkawinan sebelumnya, baik dari pihak suami saja, pihak istri saja atau kedua-duanya.

Dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Stepfamily disebutkan bahwa stepfamilies akan terbentuk jika seorang laki-laki (ayah) atau perempuan (ibu) yang telah menduda atau menjanda baik oleh sebab kematian pasangannya maupun karena perceraian, lalu melangsungkan pernikahan lagi.

5.  Keluarga dengan anak-anak yang diangkat dari anggota keluarga lain

Keluarga dengan tipe ini memiliki anak angkat yang berasal dari keluarga sendiri atau masih ada hubungan keluarga, seperti misalnya anak dari kakak, adik, saudara sepupu, dan lain-lain.

6.  Keluarga Non Tradisional

Dalam Boy Antoni Putra yang termasuk dalam keluarga non tradisional adalah :

The unmarried teenage mother

Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah


• Commune family

Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama.


• The nonmarital heterosexsual cohabiting family

Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan

Gay and lesbian families

Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana ”marital partners”

Cohabitating couple

Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan pernikahan karena beberapa alasan tertentu

Group-marriage family

Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang saling merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu termasuk sexsual dan membesarkan anak.

Group network family

Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan, dan bertanggung jawab membesarkan anaknya

Homeless family

Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.

Gang

Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.
http://bared18.blogspot.com/2009/01/konsep-keluargaa.html

Menurut Chintya Peterson dalam Types of blended Family ini, Keluarga campuran dapat terbentuk dengan ukuran yang berbeda-beda.  Keluarga ini dapat saja berukuran kecil dengan satu urang tua dan satu anak, atau bisa juga berukuran besar dengan dua orang tua (ayah-ibu) dengan banyak anak-anak. Namun tantangan maupun kegembiraan orangtua dalam rumahtangga campuran tidak tergantung dari ukuran atau besar kecilnya keluarga tersebut. Hal-hal yang unik atau khusus dapat saja terjadi sesuai dengan jumlah anggora keluarga yang ada di dalamnya.

Tak peduli bagaimana sebuah keluarga itu “bercampur”, yang terpenting adalah tujuan dari pengasuhan menjadi hal penting.   Kegembiraan menuju keberhasilan dan tantangan menghadapi perilaku yang tidak diinginkan tidak tergantung dari jenis /tipe keluarga yang dimiliki.  Penerimaan dan rasa kebersamaan dalam rumah menjadi sesuatu yang sangat diharapkan dalam sebuah keluarga.

KESIMPULAN

  1. Semakin banyaknya perubahan yang terjadi di dunia saat ini, membuat semakin banyak ragamnya tipe keluarga yang ada.
  2. Perubahan-perubahan yang mempengaruhi tipe keluarga tersebut antara lain adalah meningkatnya tingkat perceraian, banyaknya pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, meningkatnya hubungan sesama jenis, pernikahan antar budaya/ antar ras, adanya anak adopsi dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.sociologyguide.com/marriage-family-kinship/Types-of-the-family.php

http://www.csus.edu/indiv/k/kawamoto/downloadable/50jackson1.htm

http://bared18.blogspot.com/2009/01/konsep-keluargaa.html

http://www.edu.pe.ca/southernkings/familytypes.htm

http://www.aces.edu/urban/metronews/vol2no1/nontrad.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Stepfamily

(http://www.divorcerate.org/

 

Perkembangan Bahasa pada Anak (2)

Filed under: Uncategorized — kenty martiastuti @ 12:16 pm

BAB. I.
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
A
nak adalah interesting subject matter yang selalu menarik untuk menjadi bahan pembicaraan, karena anak-anak adalah makhluk yang unik dan sangat ‘hidup’. Setiap detik kehidupan yang dilaluinya akan memberikan warna bagi keseluruhan hidup di masa dewasanya kelak. Siapapun kita, pasti telah melalui masa kanak-kanak, masa yang sedikit banyak telah mempengaruhi kita sehingga menjadi seperti sekarang ini.
Perjalanan seorang anak manusia dimulai ketika sel sperma berjuang mendapatkan cintanya setelah bersaing dengan jutaan sperma lainnya. Sel sperma dan sel telur yang bersatu inilah yang akhirnya akan tumbuh dan berkembang menjadi sesosok makhluk unik yang terus dan terus mengalami proses perkembangan sejak ia masih berbentuk segumpal darah sampai ia dilahirkan dan kemudian mengakhiri tugasnya di dunia ini.
Begitu banyak tugas perkembangan yang harus dijalani sseorang anak manusia yang kesemuanya melalui periode-periode tertentu, sejak sebelum lahir (prenatal), masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, dewasa dan tua.
Proses perkembangan yang begitu pesat baik dari segi kognitif, emosi, sosial maupun perkembangan bahasanya terutama terjadi pada masa kanak-kanak. Perkembangan bahasa seorang anak dimulai saat anak yang baru saja dilahirkan ke dunia menangis. Inilah tanda awal dimulainya anak berkomunikasi dengan dunia luar dengan kemampuan dasar yang dimilikinya.
Pembahasan tentang perkembangan bahasa ini menjadi suatu hal yang menarik mengingat tugas perkembangan bahasa merupakan sebuah tugas “besar” yang harus diselesaikan oleh anak-anak. Mereka harus menguasai semua peringkat bahasa tidak hanya ucapan yang tepat tetapi juga tidak terbatas cara menggabungkan kata menjadi kalimat untuk mengungkapkan gagasan. Hal yang mengagumkan adalah bahwa sebenarnya anak-anak dalam semua budaya dapat menyelesaikan hal yang begitu banyak hanya dalam waktu empat atau lima tahun.

B. TUJUAN

1. Membahas tentang proses perkembangan bahasa pada anak-anak
2. Menyajikan beberapa hasil penelitian tentang perkembangan bahasa pada anak-anak
3. Menganalisa hasil-hasil penelitian tentang perkembangan bahasa

BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI BAHASA

Bahasa adalah suatu bentuk komunikasi, baik lisan, tertulis atau isyarat yang berdasarkan pada suatu sistem dari simbol-simbol. Bahasa terdiri dari kata-kata yang digunakan oleh masyarakat beserta aturan-aturan untuk menyusun berbagai variasi dan mengkombinasikannya.
Jika bunyi-bunyian itu mempunyai artikulasi tertentu yaitu diucapkan dengan jelas dan mengandung intensi/maksud tertentu, bunyi-bunyian itu disebut sebagai bahasa. Menurut Kartini Kartono (2007), bahasa dapat dapat berfungsi sebagai:
1. alat untuk mengungkapkan fikiran dan maksud tertentu
2. alat untuk berkomunikasi dengan orang lain
3. alat untuk membuka lapangan rohaniah yang lebih tinggi tarafnya
4. alat untuk mengembangkan fungsi-fungsi tanggapan, perasaan, fantasi, intelek dan kemauan.
Sedangkan menurut Halliday (1975), bahasa mempunyai fungsi:
1. Instrumental
Anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan keinginannya (misalnya: “Aku ingin………”)
2. Regulation
Anak menggunakan bahasa untuk mengontrol orang lain (misalnya: “Lakukan itu untukku!”)
3. Interpersonal
Anak menggunakan bahasa untuk berinteraksi dengan orang lain (misalnya: “Kita ngobrol soal film, yuk..!”)

4. Personal
Anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dirinya (misalnya: “Aku jago main pemain baseball”)
5. Questioning
Anak menggunakan bahasa untuk mengetahui dunia ini dengan bertanya (misalnya: “Mengapa langit berwarna biru?”)
6. Imagination
Anak menggunakan bahasa untuk berimajinasi (misalnya: “Misalnya saja, kita menjadi adalah Mama dan Papa”)
7. Information
Anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain (misalnya: “Aku mau cerita tadi aku ngapain aja di sekolah.”)

Bahasa merupakan tanda atau simbol dari benda-benda serta menunjuk pada maksud-maksud tertentu. Kata-kata, kalimat dan bahasa selalu menampilkan arti-arti tertentu. Sehubungan dengan arti simbolik tadi, bahasa dipakai juga sebagai alat untuk mengahayati pengertian-pengertian dan peristiwa-peristiwa di masa lampau, masa kini dan masa mendatang. Oleh karena itu bahasa sangat besar artinya bagi anak sebagai alat bantu mengembangkan fungsi-fungsi rohaniahnya.
Kita perlu bahasa untuk berbicara dengan orang lain, mendengarkan orang lain, membaca dan menulis. Bahasa memampukan kita mendeskripsikan kejadian-kejadian di masa lalu dan merencanakan masa depan. Bahasa membuat kita dapat mewariskan informasi dari generasi ke generasi berikutnya dan menciptakan suatu warisan budaya yang kaya.
Anak-anak di China dapat berbahasa Cina, sama halnya dengan anak-anak di Inggris yang dapat berbahasa Inggris. Anak-anak belajar bicara dengan mencontoh atau mengikuti suara yang didengarnya. Bahasa, sama seperti kemampuan lainnya diperoleh dari proses observasi/pengamatan, imitasi/peniruan dan penguatan/penghargaan (Skinner, 1957). Kelihatannya, bahasa bukanlah suatu hal yang rumit, dan kemampuan berbahasa dalam hal ini bukanlah sebuah kemampuan yang khusus. Padahal bahasa adalah salah satu fenomena yang kompleks dan misterius yang pernah dipelajari oleh para peneliti dan merupakan sesuatu yang dapat dipelajari tanpa proses pengajaran formal sekalipun.

B. PENGERTIAN PERKEMBANGAN BAHASA

Berpikir adalah ciri yang khas yang membedakan manusia dengan hewan. Bahasa merupakan salah satu dari hasil proses berpikir. “Bahasa” hewan bukanlah bahasa seperti manusia yang dimiliki manusia. “Bahasa” hewan adalah bahasa instink yang tidak perlu dipelajari dan diajarkan, sedangkan bahasa manusia adalah hasil dari kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.
Dengan bahasa, manusia dapat memberi nama kepada segala sesuatu yang baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Semua benda, nama sifat, pekerjaan, dan hal yang yang abstrak, diberi nama. Dengan demikian, segala sesuatu yang pernah diamati dan dialami dapat disimpannya, menjadi tanggapan-tanggapan dan pengalaman-pengalaman kemudian diolahnya (berpikir) menjadi pengertian-pengertian.
Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan, tanda, simbol atau bahasa isyarat. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya.
Pada usia kira-kira 1 tahun, anak mulai memberi nama benda-benda. Setelah tahu banyak tentang dunia ini, anak mungkin mempunyai konsep untuk orang tua, binatang piaraan, makanan, mainan dan anggota badan, sebelum mereka tahu namanya. Apa yang mereka lakukan pada waktu mereka mulai dapat berbicara adalah menghubungkan konsep ini pada kata-kata yang digunakan untuk orang dewasa. Hal ini tidak terjadi sekaligus. Seorang anak perempuan 3 tahun telah mempunyai konsep berbagai macam warna dan tahu bahwa kata-kata tertentu adalah nama warna tetapi tidak tahu nama yang sesuai dengan warna tertentu. Ketika ditanya tentang warna biru, dia dapat saja mengatakan “merah” (Miller dan Johnson-Laird, 1976).
Seorang psikologi perkembangan dari Illinois State University bernama Laura E. Berk (1989) setelah mempelajari dan meneliti berbagai aspek perkembangan individu, sampailah dia pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan. Sungguhpun bahasa itu kompleks, namun pada umumnya perkembangan pada individu dengan kecepatan luar biasa terjadi pada awal masa kanak-kanak.
Anak datang dengan kemampuan membedakan bunyi yang bersesuaian dengan fonem yang berbeda dalam semua bahasa. Fakta luar biasa tersebut ditentukan oleh eksperimen dimana bayi dipresentasikan pasangan bunyi secara berurutan sementara mereka mengisap dot.
Berbagai peneliti psikologi perkembangan mengatakan bahwa secara umum perkembangan bahasa lebih cepat dari perkembangan aspek-aspek lainnya, meskipun kadang-kadang ditemukan juga sebagian anak yang lebih cepat perkembangan motoriknya daripada perkembangan bahasanya. Berdasarkan hasil-hasil penelitiannya maka para ahli psikologi perkembangan mendefinisikan perkembangan bahasa sebagai kemampuan individu dalam menguasai kosa kata, ucapan, gramatikal, dan etika pengucapannya dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan umur kronologisnya. Perbandingan antara umur kronologis dengan kemampuan berbahasa individu menunjukkan perkembangan bahasa individu yang bersangkutan.

C. TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PERKEMBANGAN BAHASA

Penelitian telah menunjukkan bahwa janin mampu membentuk kenangan di dalam rahim mengenai hal penting dalam proses pembelajaran bahasa awal. Selain itu biasanya akan terjadi perubahan detak jantung saat bayi mendengar suara yang sering didengarnya (familier). Kenangan tersebut mungkin terjadi pada awal kehamilan trimester ketiga yang merupakan titik awal sistem pendengaran mulai bisa menanggapi sinyal akustik.
Pada usia 2 bulan, bayi memang sudah membedakan suara satu dengan lainnya, serta memberi respon dengan tersenyum atau tertawa. Sampai usia 6 bulan bayi sudah bisa mengeluarkan ocehan atau lontaran suara. Di usia 8 bulan, ia sudah mengerti beberapa suara dan kata. Hal ini sangat berguna untuk membantu perkembangan pemahamannya. Ia pun mulai bisa berteriak untuk mencari perhatian, berespon kala namanya dipanggil, dan tertarik saat ada orang berbicara meski tak langsung tertuju pada dirinya.
Penguasaan bahasa anak akan berkembang menurut hukum alami, yaitu mengikuti bakat, kodrat dan ritme perkembangan yang alami. Namun perkembangan tadi sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau oleh stimuli ekstern (lingkungan). Disamping itu bahasa anak berpadu erat dengan alam penghayatannya terutama sekali dengan emosi/perasaannya. Hal ini jelas terungkapkan dalam lagu, irama dan suara anak sewaktu ia mengucapkan kata-kata dan kalimat.
Hasil pelbagai penyelidikan menunjukkan bahwa perkembangan bahasa anak yang sesuai dengan norma tata bahasa belum bisa selesai pada usia 12-18 bulan. Oleh karena itu anak harus banyak belajar bicara baik dengan menggunakan bahasa yang halus.
Sambil bercakap-cakap anak melatih fungsi bicaranya. Sekaligus juga melatih diri kepribadiannya karena didorong oleh hasrat yang kuat untuk berkomunikasi dengan manusia lain (untuk berdialog dan mencari Aku yang lain dan untuk memhami dunia sekitar). Dalam proses belajar menguasai bahasa, terdapat periode stagnasi di mana anak dihadapkan pada banyak kesulitan dalam penguasaan bahasanya dan kemajuan anak berlangsung sangat lambat sekali. Periode stagnasi sedemikian ini lalu diselingi dengan periode perkembangan yang sangat cepat.
Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu:
1. Tahap eksternal, yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2. Tahap egosentris, yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3. Tahap Internal, yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.
Sedangkan, Clara dan William Stern membagi perkembangan bahasa anak dalam 4 tahapan yaitu:
1. Prastadium
Pada tahun pertama: meraba, kemudian menirukan bunyi-bunyi. Mula-mula menguasai huruf hidup kemudia huruf mati, terutama huruf-huruf bibir. Lalu berlangsung proses reduplikasi atau pengulangan suku kata seperti ;l ma-ma, pa-pa, mam-mam, dll
2. Masa Pertama (12-18 bulan)
Merupakan stadium kalimat-satu kata. Satu perkataan dimaksudkan untuk mengungkapkan satu perasaan atau satu keinginan. Umpama kata ‘mama’ dimaksudkan untuk: “Mama, saya minta makan”.

3. Masa Kedua (18-24 bulan)
Merupakan stadium-nama. Pada saat ini timbul kesadaran bahwa setiap benda mempunyai nama. Jadi ada kesadaran tentang bahsa. Anak mengalami peristiwa “lapar-kata” yaitu mau menghafal secara terus menerus kata-kta baru dan ingin memahami atinya. Perbendaharaan kata anak jadi semakin bertambah dengan cepatnya dan anak akan selalu merasa “haus tanya” dengan jalan mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya.
4. Masa Ketiga (24-30 bulan)
Merupakan stadium-flexi. Lambat laun anak mulai menggunakan kata kerja dengan menambahkan awalan, akhiran dan sisipan. Bentuk kalimat-kalimat masih tunggal, kemudian anak mulai menggunakan kata seru , kalimat tanya dan penjelasan. Lalu bisa merangkaikan kalimat-kalimat pendek.
5. Masa Keempat (30 bulan ke atas)
Merupakan stadium anak kalimat. Pertanyaan anak kini sudah menyangkut hubungan waktu (kapan) dan sebab musabab (mengapa).

Berbicara adalah bagian terbesar dari bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Namun bahasa lebih dari sekedar bicara. Bahasa terdiri dari elemen-elemen komunikasi seperti bahasa tubuh, gerak gerik dan kontak mata. Seorang anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Perkembangan bahasa dan bicara pada anak menurut aturan yang normal adalah sebagai berikut:

Sebagai bahan perbandingan, ada pula yang membuat diagram perkembangan bahasa menurut usia anak sebagai berikut:

Umur Anak Ciri atau Tipe Perkembangan Bahasa
6 Bulan • Vokalisasi dengan intonasi
• Merespon namanya
• Menanggapi suara manusia tanpa petunjuk visual dengan memutar kepala dan mata
• Menanggapi secara tepat intonasi ramah atau marah
12 Bulan • Menggunakan satu atau lebih kata dengan makna
• Memahami petunjuk sederhana, terutama jika vokal atau isyarat fisik diberikan
• Praktik infleksi
• Menyadari nilai sosial dari ucapan
18 Bulan • Memiliki kosakata sekitar 5-20 kata
• Kosakata terutama terdiri dari kata benda
• Beberapa echolalia (mengulang kata atau frase berulang-ulang)
• Banyak jargon dengan konten emosional
• Mampu mengikuti perintah sederhana
24 Bulan • Dapat menamai sejumlah objek umum bagi lingkungannya
• Dapat menggunakan setidaknya dua preposisi, biasanya dipilih dari berikut ini: di, pada, di bawah
• Menggabungkan kata-kata menjadi kalimat pendek-terutama kombinasi kata benda-kata kerja
• Sekitar 2 / 3 dari apa yang dikatakan anak dapat dipahami
• Memiliki kosakata sekitar 150-300 kata
• Irama dan kefasihan sering buruk
• Volume dan nada suara belum terkontrol dengan baik
• Dapat menggunakan dua kata ganti dengan benar
• Saya (sebagai subyek) dan saya (sebagai obyek) mulai muncul
• Dapat merespon perintah seperti “tunjukkan matamu”
36 Bulan • Dapat menggunakan kata ganti aku dan kau
• Dapat menggunakan beberapa kata jamak
• Tahu setidaknya tiga preposisi, biasanya di, pada, di bawah
• Tahu bagian tubuh
• Memahami kalimat tiga kata dengan mudah
• Memahami sekitar 900-1000 kata
• Sekitar 90% kata-katanya dapat dipahami
• Verba mulai mendominasi
• Mengerti pertanyaan paling sederhana yang berhubungan dengan lingkungan dan kegiatan
• Menghubungkan antara pengalaman-pengalamannya
• Mampu memberikan alasan dari pertanyaan-pertanyaan seperti “apa yang harus dilakukan ketika kamu mengantuk, lapar, dingin, atau haus?”
• Harus mampu menjelaskan jenis kelamin, nama, usianya
• Walaupun anak mengerti maksudnya, namun belum tentu ia dapat menjawab semua pertanyaan.

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
BAHASA

Menurut pandangan yang nativistik atau organismis maka struktur bahasa telah ditentukan secara biologis. Tokoh yang penting dari pandangan ini adalah ahli linguistic : Noam Chomsky. Chomsky mengatakan bahwa anak lahir ke dunia dengan Language Acquisition Device (LAD) yaitu sifat biologis yang membuat anak dapat mendeteksi bentuk dan aturan tata bahasa termasuk phonology, syntax dan semantics.
Chomsky membuat suatu model untuk menunjukkan bagaimana anak belajar tata bahasa. Model Chomsky dikenal sebagai LAD. Sistem LAD Chomsky menunjukkan bagaimana anak belajar tatabahasa. Sebelum tatabahasa terbentuk pada anak-anak, anak mendapat input dari data bahasa dari lingkungannya. Kemudian LAD menjabarkan aturan tatabahasa dari data input ini. Hal ini dapat dilakukan oleh LAD karena LAD mempunyai struktur internal yang dapat menjabarkan struktur yang sama dari semua bahasa, dan yang juga ada dalam tatabahasa yang masuk tadi. Dengan kata lain, sistem LAD mempunyai sifat-sifat yang diperlukan untuk dapat mengadakan penjabaran atau ekstrasi dari semua bahasa.
Penelitian Neurofisiologis menunjukkan bahwa belajar bicara dan perkembangan Struktur neural yang spesifik yang berhubungan dengan bahasa mempunyai lokalosasi terutama pada hermisfer otak bagian kiri dan keduanya berhubungan erat satu sama lain. Bila terjadi kerusakan hermisfer bagian ini pada tahap awal, maka hermisfer kanan masih bisa mengambil alih fungsi ini.
Bayi yang baru lahir beberapa hari akan menangis dengan intonasi yang mencerminkan bahasa yang digunakan orangtuanya. Bayi mempelajari bahasa yang sering didengarnya itu sejak usia kehamilan trimester ketiga. Kesimpulan yang diambil oleh peneliti dari Jerman adalah janin yang mendengarkan bahasa ibunya selama kehamilan trimester terakhir akan meletakkan dasar-dasar belajar bahasa itu sebelum bayi tersebut dilahirkan.
Sementara itu, aliran empirisme atau behaviorisme justru berpandangan sebaliknya, yaitu bahwa kemampuan perkembangan berbahasa seseorang tidak ditentukan oleh bawaan sejak lahir melainkan ditentukan oleh proses belajar dari lingkungan sekitarnya. Jadi, menurut aliran ini proses belajarlah yang sangat menentukan kemampuan perkembangan bahasa seseorang. Dari perspektif ini, meskipun kemampuan bahasa orang tuanya kurang baik dan lambat tetapi jika proses stimulasi dan proses belajar dilakukan secara intensif dengan lingkungan berbahasa secara baik dan cepat, kemampuan perkembangan bahasa anak menjadi baik dan cepat.
Memang teori belajar dapat memberikan pengertian mengenai peranan interaksi antara ibu dengan anaknya yang sedang belajar bahasa, interaksi bahasa antara ibu dan anak menentukan apakah anak dapat meluaskan kompetensi bahasanya atau tetap tinggal pada kompetensi yang relatif sederhana, anak belajar untuk meluaskan kalimat.
Adapun aliran lain yang cenderung lebih moderat, yaitu aliran konvergensi mengajukan pandangan yang merupakan kolaborasi dari faktor bawaan dan pengaruh lingkungan. Faktor bawaan yang kuat pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa seseorang adalah aspek kognitif. Kemampuan berbahasa seseorang banyak dipengaruhi oleh kapasitas kemampuan kognitif seseorang, sedangkan faktor lingkungan yang berpengaruh antara lain adalah besarnya kesempatan yang diperoleh dari lingkungannya.
Diagram di bawah ini menunjukkan kompleksitas dari terjadinya sebuah komunikasi yang dikenal dengan Means, reasons and opportunities model

Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
1.Kognisi
Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang.
2.Pola komunikasi dalam keluarga
Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah atau interaksinya relatif demokratis akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya dibanding yang menerapkan komunikasi dan interaksi sebaliknya.
3.Jumlah anak atau jumlah keluarga
Suatu keluarga yang memiliki banyak anak atau banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.
4.Posisi urutan kelahiran
Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak tengah memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.
5.Kedwibahasaan (Bilingualisme)
Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi.

BAB III.
BEBERAPA ARTIKEL PENELITIAN YANG BERKAITAN DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK

Dalam penulisan ini akan ditampilkan 2 penelitian dan 1 artikel yang berhubungan dengan perkembangan bahasa:
1. Associations Between Breastfeeding Practices and Young Children’s
Language and Motor Skill Development
2. Early Word-Object Associations and Later Language Development
3. Early Childhood Language Development and Games to Stimulate It
Hasil dari penelitian-penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Associations Between Breastfeeding Practices and Young
Children’s Language and Motor Skill Development

Penelitian ini dilakukan terhadap 22.399 anak dari Survei Kesehatan Anak Nasional 2003. Penelitian ini bertujuan mempelajari hubungan antara kegiatan menyusui dengan perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anak. Hasilnya didasarkan pada respon ibu terhadap pertanyaan tingkat kekhawatiran mereka (banyak, sedikit, tidak sama sekali) terhadap perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anak mereka.
Usia rata-rata dari sampel adalah 2.79 tahun. Sebayak 67% berasal dari ras non Hispanik kulit putih, 16% Hispanik dan 9% non Hispanik kulit hitam. Berdasarkan hasil analisis Multivariat diketahui bahwa ibu yang menyusui lebih sedikit tingkat kekhawatirannya terhadap perkembangan bahasa dan kemapuan motorik anaknya daripada ibu yang tidak pernah menyusui.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pada adanya hubungan antara kegiatan menyusui dengan perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anak.
Penelitian menunjukkan anak-anak yang tidak diberi ASI akan memiliki peningkatan risiko mengalami penyakit saluran pernapasan otitis media, diare, necrotizing enterocolitis, dernutrition, dan kelebihan berat badan, sedangkan resiko kesehatan bagi ibu yang tidak menyusui adalah peningkatan risiko kehilangan darah pasca-melahirkan, premenopause, kanker payudara, dan kanker ovarium. Mengingat pentingnya ASI ini maka The American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif untuk pertama 6 bulan kehidupan, diikuti oleh pengenalan secara bertahap pelengkap makanan bayi, dengan tetap melanjutkan pemberian ASI untuk setidaknya tahun pertama kehidupan.
Ada empat pertanyaan yang digunakan untuk mengukur tingkat kekhawatiran/keprihatinan orang tua (banyak, sedikit atau tidak sama sekali) terhadap perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anak. Perkembangan bahasa yang dilihat adalah bahasa ekspresif (aktif), bahasa reseptif (pasif), sedangkan untuk perkembangan motorik yang dilihat adalah motorik halus dan motorik kasar. Namun yang akan dibahas adalah perkembangan bahasa saja.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah seberapa besar kekhawatiran anda (banyak, sedikit, tidak sama sekali) terhadap cara anak anda:
1. Berbicara atau membuat bunyi-bunyi ujaran? (bahasa ekspresif)
2. Mengerti apa yang anda katakan? (bahasa reseptif)
3. Menggunakan jari-jarinya untuk melakukan sesuatu? (motorik halus)
4. Menggunakan tangan dan kakinya? (motorik kasar)
Penelitian ini menemukan bahwa kegiatan menyusui dapat melindungi anak dari keterlambatan dalam kemampuan berbahasa dan motorik anak. Kekhawatiran yang lebih sedikit ditemukan pada anak-anak yang menyusu lebih dari 3 bulan dan secara umum, kekhawatiran ini akan menurun lagi jika kegiatan menyusu berlanjut hingga 9 bulan atau lebih.
Dalam penelitian ini ditemukan bukti adanya hubungan yang signifikan antara inisiasi menyusui dan berkurangnya tingkat kekhawatiran ibu terhadap perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anaknya. Jika dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui, maka ibu yang menyusui 22% lebih rendah rasa kekhawatirannya terhadap perkembangan bahasa ekspresif anaknya dan 30% lebih rendah kekhatirannya terhadap perkembangan bahasa reseptif.
Sehubungan dengan perkembangan bahasa ini, pada usia 2 bulan, bayi memang sudah membedakan suara satu dengan lainnya, serta memberi respon dengan tersenyum atau tertawa. Sampai usia 6 bulan bayi sudah bisa mengeluarkan ocehan atau lontaran suara. Di usia 8 bulan, ia sudah mengerti beberapa suara dan kata. Hal ini sangat berguna untuk membantu perkembangan pemahamannya. Ia pun mulai bisa berteriak untuk mencari perhatian, berespon kala namanya dipanggil, dan tertarik saat ada orang berbicara meski tak langsung tertuju pada dirinya. Oleh karena itu untuk mengembangkan kemampuan komunikasi buah hati Anda, berikan banyak rangsangan pada semua panca indera bayi, terutama agar ia melihat ekspresi orangtua ketika berbicara dengannya.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (a) kegiatan menyusui dapat melindungi anak dari keterlambatan bahasa dan kemampuan motorik, (b) adanya hubungan yang signifikan antara kegiatan menyusui dan berkurangnya tingkat kekhawatiran ibu terhadap perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anaknya. Beberapa analisa sederhana yang dapat menjelaskan hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
(1) Seperti diketahui, pemrosesan bahasa pada otak manusia terdapat pada lobus temporal dan secara umum bicara dan tata bahasa ditangani oleh hemisfer kiri dari otak manusia. Dari uruaian ini jelas bahwa “kesehatan” otak sangat berpengaruh pada perkembangan anak termasuk juga perkembangan bahasanya.
(2) Pertumbuhan otak yang baik juga ditentukan oleh pemberian ASI. Menurut penelitian, anak yang diberikan ASI, tingkat IQ-nya berbeda 12,9 poin di atas anak yang tidak diberi ASI pada anak usia 9,5 tahun. Perkembangan kognitif anak, daya ingat dan kemampuan bahasa pada anak yang mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula. Hal ini jelas bahwa pemberian ASI melalui kegiatan menyusui dapat melindungi anak dari keterlambatan bahasa.
(3) Seperti disebutkan sebelumnya, teori konvergensi mengajukan pandangan yang merupakan kolaborasi dari faktor bawaan (nature) dan pengaruh lingkungan (nurture). Faktor bawaan (nature) yang merupakan sebuah potensi harus pula didukung oleh adanya stimulasi (nurture) dari lingkungan dimana anak berada. Dengan kegiatan menyusui, banyak sekali interaksi yang terjadi antara ibu dan anaknya. Ibu dapat berkomunikasi dengan anaknya melalui kata-kata, nyanyian, cerita, pujian, mimik wajah dan do’a-do’a yang kesemuanya itu akan memperkaya tabungan bahasanya.
(4) Penelitian menunjukkan bahwa janin mampu membentuk kenangan selama di dalam rahim terutama terhadap suara-suara yang familier seperti suara ibunya. Kegiatan menyusui tentu akan menghidupkan “kenangan masa lalunya” di dalam rahim sehingga mempermudah proses perkembangan bahasa yang berlangsung.
(5) Selain itu, ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim. Penelitian menunjukkan bahwa janin mampu membentuk kenangan selama di dalam rahim terutama terhadap suara-suara yang familier seperti suara ibunya. Dalam kondisi yang seperti ini, tentu kita tidak akan menyangkal bahwa perkembangan anak akan berlangsung secara optimal.

2. Early Word-Object Associations and Later Language
Development
Pemahaman dan keterampilan berbahasa pada anak-anak di bawah usia dua tahun sangat bervariasi pada setiap individu (Fenson et al., 1994). Sebagian anak sudah daapat merangkai kata menjadi frase, sementara yang lainnya baru dapat mengeluarkan beberapa kata-kata tunggal. Variasi ini menjadi sebuah tantangan untuk mengidentifikasi apakah kemampuan hal tersebut merupakan keterlambatan saja atau karena adanya gangguan (Rescorla, 1989). Identifikasi awal ini penting dilakukan untuk melihat apakah anak yang menerima intervensi akan memaksimalkan potensi mereka (Aram & Hall, 1989; Bernhardt & Mayor, 2005; Magnusson & Naucler, 1998).
Penelitian ini adalah sebuah penyelidikan eksplorasi hubungan antara kemampuan balita dalam mengasosiasi kata dan objek dan kemampuan berbahasa mereka di kemudian hari. Ini merupakan langkah pertama dalam menentukan apakah tugas seperti itu mungkin dapat memberikan kontribusi dalam penyaringan bahasa pada balita sehingga dapat melihat kemungkinan keterlambatan atau gangguan berbahasa. Dalam penelitian ini disajikan hasil studi longitudinal dimana balita diberi tugas untuk mengasosiasikan kata dan objek berdasarkan waktu (Stager & Werker, 1997) dan hubungannya dengan ketrampilan berbahasa anak di kemudian hari. Kemampuan mengasosiasi kata dan objek pada usia 17 atau 20 bulan secara signifikan berhubungan dengan skor pada tes standar bahasa sampai dua setengah tahun kemudian.
Para peserta untuk studi saat ini telah ambil bagian dalam studi prosedur Switch (Werker et al, 2002) pada usia 17 tahun atau 20 bulan. Mereka semua lahir normal dalam usia 37 minggu kehamilan dan memiliki kesehatan yang baik pada tes awal dan tes lanjutan.
Sebanyak 32 anak yang berpartisipasi dalam studi Switch-Task diundang untuk berpartisipasi dalam dua percobaan tindak lanjut. Orang tua dari 26 anak setuju untuk mengikuti percobaan pertama (tahap satu) dan setelah 14 bulan kemudian, orang tua dari 15 anak-anak ini setuju untuk berpartisipasi dalam test lanjutan (tahap 2).
The Switch-Task digunakan untuk menguji asosiasi kata-obyek pada bayi 8-20 bulan (Werker et al., 1998). Dalam prosedur ini, bayi terbiasa dengan satu atau lebih pasangan antara benda-benda yang bergerak pada layar dan kata-kata yang disajikan lebih dari seorang pembicara. Kemampuan melakukan asosiasi kata dan obyek diukur dengan Switch-Task yang berhubungan secara signifikan dengan kemampuan berbahasa anak 1 atau 2 tahun kemudian baik pengucapan maupun tata bahasanya.
Dalam penelitian ini terlihat korelasi yang signifikan dari kekuatan melakukan asosiasi pasangan kata dan obyek dengan nilai standar dari test bahasa pada test tahap kedua sampai 2 atau 2.5 tahun ke depan. Pengenalan kata pada usia 25 bulan dapat memprediksi pertumbuhan dari produksi (pengucapan) kosa kata terutama pada tahun kedua kehidupannya.
Analisa yang dapat disampaikan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah bahwa untuk memperoleh informasi, cara terbaik adalah melakukannya secara sinkron dengan mata dan telinga (audio-visual). Dan yang penting diperhatikan dalam belajar bahasa bayi adalah adanya suara latar. Meskipun sumber suara tidak terlihat tetapi cukup mengganggu proses belajar dan kemampuan bayi menangkap informasi.
Dalam sebuah penelitian juga telah dibuktikan dengan perlakuan kepada bayi yang didengarkan dua video sekaligus, di sebelah kiri dan kanan. Yang menjadi bahan pengamatan para peneliti adalah lama rentang perhatian bayi kepada dua sumber suara yang disampaikan tayangan video tersebut. Hasilnya, para bayi memusatkan perhatian rata-rata 2 detik lebih lama pada tayangan video yang memperdengarkan kata yang sinkron dengan gambar , kemudian dibandingkan dengan bayi yang diputarkan video dengan kata-kata yang tidak sinkron dan tidak relevan. Pada bayi yang diputarkan video dengan kata-kata yang tidak sinkron, hasilnya para bayi bahkan tak dapat menangkap satupun kata baru.
Sehubungan dengan “looking time” ini, hasil penelitian menunjukkan “looking time” yang lebih lama pada “switch trial” (kombinasi kata-object yang baru) daripada “same trial” (kombinasi kata-obyek yang familier). Jadi anak-anak memang lebih mudah untuk mengingat sesuatu yang pernah ia lihat atau ia dengar sebelumnya.
Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan,tanda, symbol atau bahasa isyarat. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Sehubungan dengan hal itu pula, maka dapat dijelaskan bahwa anak akan lebih mudah memahami sesuatu yang diperkenalkan melalui persepsi intermodal. Persepsi intermodal meliputi penggabungan informasi dari dua atau lebih modalitas sensorik, seperti penglihatan dan pendengaran. Dalam sebuah studinya, Spelke & Owsley (1979) menemukan bahwa bayi berumur 3,5 bulan lebih lama menatap ibu mereka jika mereka juga mendengar suara ibu mereka.
Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa The Switch-Task pada bayi berhubungan secara signifikan dengan kemampuan bahasa anak saat usia prasekolah baik dalam pengucapan maupun tata bahasanya. Seperti disebutkan dalam tujuan penelitian ini, Switch-Task ini juga berguna untuk mengidentifikasi awal keterlambatan berbahasa.
Sehubungan dengan keterlambatan ini, ada beberapa tahap bicara yang dapat dijadikan parameter. Seperti telah dijelaskan bahwa semakin dini diketahui adanya gangguan perkembangan, semakin cepat dapat dilakukan intervensi berupa stimulasi. Orangtua harus mulai waspada bila :
• Pada usia 6 bulan, bayi tidak melirik atau menoleh pada sumber suara
yang datang dari belakang atau sampingnya
• Pada usia 10 bulan, bayi tidak merespons bila dipanggil namanya
• Pada usia 15 bulan, anak tidak mengerti atau merespons terhadap kata “tidak” atau “jangan”
• Pada usia 21 bulan, anak tidak merespons terhadap perintah : duduk
kesini, atau berdiri
• Pada usia 24 bulan, anak tidak dapat menunjuk dan menyebutkan bagian tubuh seperti mulut, hidung, mata atau kuping

3. Early Childhood Language Development and Games to
Stimulate It

Anak-anak belajar bahasa dengan cara berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka. Siapa pun yang menyaksikan seorang anak menjadi komunikator yang terampil akan setuju bahwa ini adalah proses perkembangan bahasa merupakan sebuah proses yang indah. Dalam hidupnya, seorang anak siap untuk belajar bahasa sebagai antara 0 dan 3 tahun.
Menurut Elaine Weitzman dan Janice Greenberg dalam buku mereka Belajar Bahasa dan Loving It (The Hanen Centre, 2002) para peneliti telah menetapkan bahwa tiga tahun pertama kehidupan adalah “periode kritis” bagi perkembangan bahasa. Ini berarti bahwa anak-anak dalam kelompok usia ini secara optimal siap untuk belajar bagaimana untuk berkomunikasi. Mereka secara alami tertarik dalam berkomunikasi dan belajar adalah proses yang terjadi secara spontan.

Karakteristik Bahasa Toddler
Agar orang tua dapat menjadi partner komunikasi yang baik, penting untuk memahami bagaimana mereka memahami bahasa yang digunakannya. Dalam belajar bagaimana berkomunikasi, balita menempel beberapa aturan dasar:
• Mereka harus memahami kata-kata sebelum mereka dapat menggunakannya.
• Mereka perlu mendengar kata yang diulang ratusan kali sebelum mereka akan mengatakan itu.
• Mereka akan menggunakan kata-kata sehari-hari sebelum mereka menggunakan kata-kata yang lebih sulit.
• Mereka menyederhanakan pengucapan kata-kata (dog  do dan bottle  botie).
• Mereka suka menggunakan struktur suku kata sederhana seperti “baa” untuk “domba”.
• Mereka memiliki kosakata yang sederhana yang terdiri dari: nama-nama benda-benda di lingkungan mereka (seperti “mama”), kata-kata tindakan (seperti “naik”), kata-kata sosial (seperti “halo”) dan deskripsi kata-kata (seperti “besar”).
• Mereka menggunakan satu kata untuk banyak tujuan yang berbeda, misalnya “mama” bisa berarti “aku mau jus” atau “aku mau boneka”.

Perkembangan Bahasa pada Balita
Antara umur 1 dan 3 tahun balita kemajuan melalui tiga tingkat perkembangan komunikasi. Rentang usia hanya sebagai pedoman karena ada anak-anak yang dapat menguasai keterampilan ini lebih awal atau justru lebih lambat.
Pada 12 sampai 18 bulan anak-anak mulai:
• Menggunakan kata-kata tunggal pertama mereka (10-20 kata).
• Menggunakan satu kata untuk menjelaskan banyak hal.
• Meniru kata-kata dan suara binatang.
• Memberi nama pada gambar dalam sebuah buku cerita.

Selama 18 sampai 24 bulan, balita mulai menaruh kata-kata bersama-sama dalam kalimat. Mereka biasanya:
• Mulai menggunakan dua kata dalam sebuah kalimat secara teratur.
• Perbendaharaan kosakata berkembang pesat.
• Mengajukan banyak pertanyaan.
• Menceritakan apa yang mereka alami.
Pada 24 – 36 bulan balita menggunakan kalimat yang panjang, antara lain:
• Meletakkan tiga, empat dan lima kata bersama-sama dalam kalimat.
• Menggunakan lebih banyak bahasa yang benar.
• Mulailah menggunakan kata tanya “mengapa” .
• Mulai bercerita.

Permainan Bahasa untuk Balita 12-18 Bulan
Blowing Bubbles adalah permainan interaksi klasik. Kontak mata secara alami pada saat anak mencermati adanya gelembung-gelembung yang datang berrikutnya. Kosakata yang digunakan selama permainan ini sangat ideal untuk anak yang baru mulai belajar bicara seperti: lebih, banyak, gelembung, tiup, tangkap, semua pergi dan bagus.

Permainan Bahasa untuk Balita 18-24 Bulan
Berbagi Buku adalah penting selama tahap ini. Meskipun anak-anak yang lebih muda dapat menikmati buku-buku juga, namun pada tahap ini cerita sederhana lebih memikat perhatian seorang pembicara pemula. Pastikan untuk melakukan kontak mata dengan anak dan berbagi buku dengan menunjuk ke gambar dan kata-kata. Kosakata akan tergantung pada cerita jadi pastikan bahwa buku ini sesuai untuk tingkat seusianya.

Permainan Bahasa untuk Balita 24-36 Bulan
Mengadakan permainan “pesta teh” merupakan interaksi yang menyenangkan bagi anak laki-laki maupun perempuan. Permainan ini kaya dengan kesempatan untuk berlatih keterampilan sosial seperti mengucap salam dan berkata silakan atau terima kasih. Permainan akan lebih menyenangkan jika dilakukan bersama-sama dan saling meminta makanan atau minuman seperti susu, gula dan kue.

BAB. IV
P E N U T U P

Dalam bab penutup ini akan disampaikan keterkaitan antara ketiga artikel yang telah ditampilkan sebelumnya yaitu tentang kegiatan menyusui dan kegiatan switch-task dalam hubungannya dengan perkembangan bahasa anak dan juga kegiatan permainan yang sesuai untuk perkembangan bahasa.
Perkembangan bahasa adalah suatu proses yang terjadi secara bertahap dan orang tua dapat membantu anak-anaknya dengan berinteraksi dengan mereka pada tingkat yang sesuai dengan tahap perkembangannya dan dengan hal-hal yang menarik perhatian anak-anak.
Pemberian ASI melalui kegiatan menyusui menjadi hal yang sangat penting bagi perkembangan bahasa anak. Selain mendapat asupan gizi yang bermanfaat untuk perkembangan otaknya, dengan kegiatan menyusui ini, akan terjalin bonding yang kuat antara ibu-anak dan hal ini akan sangat membantu proses perkembangan anak termasuk perkembangan bahasanya.
Dalam hubungannya dengan artikel penelitian yang kedua, kegiatan switch task yang dilakukan juga berkaitan dengan persepsi intermodal dimana terjadi penggabungan moda audio (pendengaran) dan visual (penglihatan). Kegiatan ini, jika dikaitkan dengan penelitian pertama jelas bahwa penggabungan intermodal ini akan membuat proses perkembangan bahasa anak menjadi lebih optimal seperti ketika anak dalam janin merekam kenangan terhadap suara ibunya dan akan mempermudah anak untuk belajar bahasa melalui bahasa ibunya yang telah ia “kenal” sebelum ia lahir ke dunia.
Kegiatan menyusui merupakan kegiatan intim antara ibu dan anak, dimana di dalamnya terdapat begitu banyak pendidikan. Suara ibu yang didengarnya melalui cerita, ungkapan, nyanyian dan do’a akan di-match dengan memori rekaman suara ibunya saat ia masih di dalam rahim. Melalui eksperimen yang mengukur perilaku menghisap, peneliti menemukan bahwa bayi yang baru lahir lebih menyukai rekaman suara ibunya dibandingkan dengan suara wanita lain yang tidak dikenal (Flohr, 2001; Mehler, 1988; Spencer & DeCasper, 1987).
Selanjutnya, hal yang juga tidak kalah penting untuk dilakukan adalah terus menstimuli anak dengan kegiatan-kegiatan yang menunjang. Kegiatan-kegiatan ini merupakan kegiatan permainan yang memfasilitasi perkembangan bahasa anak sampai usia 3 tahun yang ditampilkan dalam artikel ketiga.
Piaget dan Vigotsky (1962) sepakat bahwa permainan adalah aktivitas yang dapat mendorong perkembangan kognitif anak. Permainan juga penting bagi kesehatan anak. Permainan dapat mengendurkan ketegangan, mempercepat perkembangan kognitif dan meningkatkan eksplorasi. Permainan juga meningkatkan afiliasi dengan sebaya, meningkatkan kemungkinan anak saling berinteraksi dan berbincang-bincang atau berkomunikasi. Selama interaksi ini, anak-anak mempraktekkan peran yang akan mereka emban kelak dalam kehidupan.
Tampak dengan jelas dalam artikel ini betapa permainan-permainan yang dilakukan akan sangat membantu perkembangan bahasa anak-anak, baik dalam hal penambahan kosa kata ataupun cara anak-anak berkomunikasi dengan orang lain dan juga memahami apa yang disampaikan oleh orang lain. Hal ini sesuai dengan pandangan Hurlock (1978), bahwa dalam bermain anak-anak harus belajar untuk dapat berkomunikasi dengan teman-temannya dan sebaliknya iapun harus belajar untuk dapat memahami apa yang disampaikan oleh orang lain, sehingga dapat dikatakan dalam kegiatan bermain ini terjadi proses perkembangan bahasa pada anak sesuai dengan tahapannya.
Kesimpulannya adalah bahwa perkembangan bahasa anak adalah sesuatu yang telah dimulai sejak anak masih dalam kandungan dan dengan pemberian ASI dan stimulasi positif, maka kemampuan bahasa anak akan berkembang secara optimal dan sesuai dengan tahap perkembangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, R.L. & Atkinson, R.C. Pengantar Psikologi (Terjemahan). Jakarta : Erlangga, 1983

Hurlock, E.B. Child Development (Sixth Edition). New York : McGraw-Hill, 1978

Kartono, K. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung : Mandar Maju, 2007

Lerner, R.M & Hultsch, D.F. Human Development (A Life-Span Perspective). New York : McGraw-Hill, 1983

Moshman, D., Glover, J.A. & Bruning, R.H. Developmental Psychology. Canada : Little, Brown & Company, 1987.

Santrock, J.W. Child Development (Twelfth Edition). New York : McGraw-Hill, 2009

Santrock, J.W. Perkembangan Anak (Terjemahan). Jakarta : Erlangga, 2007

http://valmband.multiply.com/journal/item/18/Perkembangan_Bahasa

http://speechclinic.wordpress.com/2009/04/25/baby-sign-atau-bahasa-isyarat-pada-bayi-apakah-itu/

http://www.sejenak-kemudian.co.cc/2008/11/perkembangan-bahasa-anak.html

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/m-genetics/1944697-tangis-bayi-tiru-bahasa-ibu/

http://202.146.5.33/ver1/Kesehatan/0710/01/140632.htm

http://sasino.info/2009/12/perkembangan-bicara-pada-anak/

http://www.childdevelopmentinfo.com/development/language_development.shtml

http://202.146.5.33/ver1/Kesehatan/0710/01/140632.html

http://februar.multiply.com/reviews/item/5

http://www.allacademic.com/meta/p_mla_apa_research_citation/0/9/4/3/0/p94304_index.html

http://rumahsehat.com/news/06112008/fase-belajar-bahasa-bayi/

http://rafikamilani.multiply.com/journal/item/7

http://www.adders.org/infosheet105b.gif

 

Perkembangan Bahasa pada Anak

Filed under: Uncategorized — kenty martiastuti @ 12:05 pm

BAB. I.
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Anak adalah interesting subject matter yang selalu menarik untuk menjadi bahan pembicaraan, karena anak-anak adalah makhluk yang unik dan sangat ‘hidup’. Setiap detik kehidupan yang dilaluinya akan memberikan warna bagi keseluruhan hidup di masa dewasanya kelak. Siapapun kita, pasti telah melalui masa kanak-kanak, masa yang sedikit banyak telah mempengaruhi kita sehingga menjadi seperti sekarang ini.
Perjalanan seorang anak manusia dimulai ketika sel sperma berjuang mendapatkan cintanya setelah bersaing dengan jutaan sperma lainnya. Sel sperma dan sel telur yang bersatu inilah yang akhirnya akan tumbuh dan berkembang menjadi sesosok makhluk unik yang terus dan terus mengalami proses perkembangan sejak ia masih berbentuk segumpal darah sampai ia dilahirkan dan kemudian mengakhiri tugasnya di dunia ini.
Begitu banyak tugas perkembangan yang harus dijalani sseorang anak manusia yang kesemuanya melalui periode-periode tertentu, sejak sebelum lahir (prenatal), masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, dewasa dan tua.
Proses perkembangan yang begitu pesat baik dari segi kognitif, emosi, sosial maupun perkembangan bahasanya terutama terjadi pada masa kanak-kanak. Perkembangan bahasa seorang anak dimulai saat anak yang baru saja dilahirkan ke dunia menangis. Inilah tanda awal dimulainya anak berkomunikasi dengan dunia luar dengan kemampuan dasar yang dimilikinya.
Pembahasan tentang perkembangan bahasa ini menjadi suatu hal yang menarik mengingat tugas perkembangan bahasa merupakan sebuah tugas “besar” yang harus diselesaikan oleh anak-anak. Mereka harus menguasai semua peringkat bahasa tidak hanya ucapan yang tepat tetapi juga tidak terbatas cara menggabungkan kata menjadi kalimat untuk mengungkapkan gagasan. Hal yang mengagumkan adalah bahwa sebenarnya anak-anak dalam semua budaya dapat menyelesaikan hal yang begitu banyak hanya dalam waktu empat atau lima tahun.

B. TUJUAN

1. Membahas tentang proses perkembangan bahasa pada anak-anak
2. Menyajikan beberapa hasil penelitian tentang perkembangan bahasa pada anak-anak
3. Menganalisa hasil-hasil penelitian tentang perkembangan bahasa

BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI BAHASA

Bahasa adalah suatu bentuk komunikasi, baik lisan, tertulis atau isyarat yang berdasarkan pada suatu sistem dari simbol-simbol. Bahasa terdiri dari kata-kata yang digunakan oleh masyarakat beserta aturan-aturan untuk menyusun berbagai variasi dan mengkombinasikannya.
Jika bunyi-bunyian itu mempunyai artikulasi tertentu yaitu diucapkan dengan jelas dan mengandung intensi/maksud tertentu, bunyi-bunyian itu disebut sebagai bahasa. Menurut Kartini Kartono (2007), bahasa dapat dapat berfungsi sebagai:
1. alat untuk mengungkapkan fikiran dan maksud tertentu
2. alat untuk berkomunikasi dengan orang lain
3. alat untuk membuka lapangan rohaniah yang lebih tinggi tarafnya
4. alat untuk mengembangkan fungsi-fungsi tanggapan, perasaan, fantasi, intelek dan kemauan.
Sedangkan menurut Halliday (1975), bahasa mempunyai fungsi:
1. Instrumental
Anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan keinginannya (misalnya: “Aku ingin………”)
2. Regulation
Anak menggunakan bahasa untuk mengontrol orang lain (misalnya: “Lakukan itu untukku!”)
3. Interpersonal
Anak menggunakan bahasa untuk berinteraksi dengan orang lain (misalnya: “Kita ngobrol soal film, yuk..!”)

4. Personal
Anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dirinya (misalnya: “Aku jago main pemain baseball”)
5. Questioning
Anak menggunakan bahasa untuk mengetahui dunia ini dengan bertanya (misalnya: “Mengapa langit berwarna biru?”)
6. Imagination
Anak menggunakan bahasa untuk berimajinasi (misalnya: “Misalnya saja, kita menjadi adalah Mama dan Papa”)
7. Information
Anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain (misalnya: “Aku mau cerita tadi aku ngapain aja di sekolah.”)

Bahasa merupakan tanda atau simbol dari benda-benda serta menunjuk pada maksud-maksud tertentu. Kata-kata, kalimat dan bahasa selalu menampilkan arti-arti tertentu. Sehubungan dengan arti simbolik tadi, bahasa dipakai juga sebagai alat untuk mengahayati pengertian-pengertian dan peristiwa-peristiwa di masa lampau, masa kini dan masa mendatang. Oleh karena itu bahasa sangat besar artinya bagi anak sebagai alat bantu mengembangkan fungsi-fungsi rohaniahnya.
Kita perlu bahasa untuk berbicara dengan orang lain, mendengarkan orang lain, membaca dan menulis. Bahasa memampukan kita mendeskripsikan kejadian-kejadian di masa lalu dan merencanakan masa depan. Bahasa membuat kita dapat mewariskan informasi dari generasi ke generasi berikutnya dan menciptakan suatu warisan budaya yang kaya.
Anak-anak di China dapat berbahasa Cina, sama halnya dengan anak-anak di Inggris yang dapat berbahasa Inggris. Anak-anak belajar bicara dengan mencontoh atau mengikuti suara yang didengarnya. Bahasa, sama seperti kemampuan lainnya diperoleh dari proses observasi/pengamatan, imitasi/peniruan dan penguatan/penghargaan (Skinner, 1957). Kelihatannya, bahasa bukanlah suatu hal yang rumit, dan kemampuan berbahasa dalam hal ini bukanlah sebuah kemampuan yang khusus. Padahal bahasa adalah salah satu fenomena yang kompleks dan misterius yang pernah dipelajari oleh para peneliti dan merupakan sesuatu yang dapat dipelajari tanpa proses pengajaran formal sekalipun.

B. PENGERTIAN PERKEMBANGAN BAHASA

Berpikir adalah ciri yang khas yang membedakan manusia dengan hewan. Bahasa merupakan salah satu dari hasil proses berpikir. “Bahasa” hewan bukanlah bahasa seperti manusia yang dimiliki manusia. “Bahasa” hewan adalah bahasa instink yang tidak perlu dipelajari dan diajarkan, sedangkan bahasa manusia adalah hasil dari kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.
Dengan bahasa, manusia dapat memberi nama kepada segala sesuatu yang baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Semua benda, nama sifat, pekerjaan, dan hal yang yang abstrak, diberi nama. Dengan demikian, segala sesuatu yang pernah diamati dan dialami dapat disimpannya, menjadi tanggapan-tanggapan dan pengalaman-pengalaman kemudian diolahnya (berpikir) menjadi pengertian-pengertian.
Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan, tanda, simbol atau bahasa isyarat. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya.
Pada usia kira-kira 1 tahun, anak mulai memberi nama benda-benda. Setelah tahu banyak tentang dunia ini, anak mungkin mempunyai konsep untuk orang tua, binatang piaraan, makanan, mainan dan anggota badan, sebelum mereka tahu namanya. Apa yang mereka lakukan pada waktu mereka mulai dapat berbicara adalah menghubungkan konsep ini pada kata-kata yang digunakan untuk orang dewasa. Hal ini tidak terjadi sekaligus. Seorang anak perempuan 3 tahun telah mempunyai konsep berbagai macam warna dan tahu bahwa kata-kata tertentu adalah nama warna tetapi tidak tahu nama yang sesuai dengan warna tertentu. Ketika ditanya tentang warna biru, dia dapat saja mengatakan “merah” (Miller dan Johnson-Laird, 1976).
Seorang psikologi perkembangan dari Illinois State University bernama Laura E. Berk (1989) setelah mempelajari dan meneliti berbagai aspek perkembangan individu, sampailah dia pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan. Sungguhpun bahasa itu kompleks, namun pada umumnya perkembangan pada individu dengan kecepatan luar biasa terjadi pada awal masa kanak-kanak.
Anak datang dengan kemampuan membedakan bunyi yang bersesuaian dengan fonem yang berbeda dalam semua bahasa. Fakta luar biasa tersebut ditentukan oleh eksperimen dimana bayi dipresentasikan pasangan bunyi secara berurutan sementara mereka mengisap dot.
Berbagai peneliti psikologi perkembangan mengatakan bahwa secara umum perkembangan bahasa lebih cepat dari perkembangan aspek-aspek lainnya, meskipun kadang-kadang ditemukan juga sebagian anak yang lebih cepat perkembangan motoriknya daripada perkembangan bahasanya. Berdasarkan hasil-hasil penelitiannya maka para ahli psikologi perkembangan mendefinisikan perkembangan bahasa sebagai kemampuan individu dalam menguasai kosa kata, ucapan, gramatikal, dan etika pengucapannya dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan umur kronologisnya. Perbandingan antara umur kronologis dengan kemampuan berbahasa individu menunjukkan perkembangan bahasa individu yang bersangkutan.

C. TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PERKEMBANGAN BAHASA

Penelitian telah menunjukkan bahwa janin mampu membentuk kenangan di dalam rahim mengenai hal penting dalam proses pembelajaran bahasa awal. Selain itu biasanya akan terjadi perubahan detak jantung saat bayi mendengar suara yang sering didengarnya (familier). Kenangan tersebut mungkin terjadi pada awal kehamilan trimester ketiga yang merupakan titik awal sistem pendengaran mulai bisa menanggapi sinyal akustik.
Pada usia 2 bulan, bayi memang sudah membedakan suara satu dengan lainnya, serta memberi respon dengan tersenyum atau tertawa. Sampai usia 6 bulan bayi sudah bisa mengeluarkan ocehan atau lontaran suara. Di usia 8 bulan, ia sudah mengerti beberapa suara dan kata. Hal ini sangat berguna untuk membantu perkembangan pemahamannya. Ia pun mulai bisa berteriak untuk mencari perhatian, berespon kala namanya dipanggil, dan tertarik saat ada orang berbicara meski tak langsung tertuju pada dirinya.
Penguasaan bahasa anak akan berkembang menurut hukum alami, yaitu mengikuti bakat, kodrat dan ritme perkembangan yang alami. Namun perkembangan tadi sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau oleh stimuli ekstern (lingkungan). Disamping itu bahasa anak berpadu erat dengan alam penghayatannya terutama sekali dengan emosi/perasaannya. Hal ini jelas terungkapkan dalam lagu, irama dan suara anak sewaktu ia mengucapkan kata-kata dan kalimat.
Hasil pelbagai penyelidikan menunjukkan bahwa perkembangan bahasa anak yang sesuai dengan norma tata bahasa belum bisa selesai pada usia 12-18 bulan. Oleh karena itu anak harus banyak belajar bicara baik dengan menggunakan bahasa yang halus.
Sambil bercakap-cakap anak melatih fungsi bicaranya. Sekaligus juga melatih diri kepribadiannya karena didorong oleh hasrat yang kuat untuk berkomunikasi dengan manusia lain (untuk berdialog dan mencari Aku yang lain dan untuk memhami dunia sekitar). Dalam proses belajar menguasai bahasa, terdapat periode stagnasi di mana anak dihadapkan pada banyak kesulitan dalam penguasaan bahasanya dan kemajuan anak berlangsung sangat lambat sekali. Periode stagnasi sedemikian ini lalu diselingi dengan periode perkembangan yang sangat cepat.
Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu:
1. Tahap eksternal, yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2. Tahap egosentris, yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3. Tahap Internal, yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.
Sedangkan, Clara dan William Stern membagi perkembangan bahasa anak dalam 4 tahapan yaitu:
1. Prastadium
Pada tahun pertama: meraba, kemudian menirukan bunyi-bunyi. Mula-mula menguasai huruf hidup kemudia huruf mati, terutama huruf-huruf bibir. Lalu berlangsung proses reduplikasi atau pengulangan suku kata seperti ;l ma-ma, pa-pa, mam-mam, dll
2. Masa Pertama (12-18 bulan)
Merupakan stadium kalimat-satu kata. Satu perkataan dimaksudkan untuk mengungkapkan satu perasaan atau satu keinginan. Umpama kata ‘mama’ dimaksudkan untuk: “Mama, saya minta makan”.

3. Masa Kedua (18-24 bulan)
Merupakan stadium-nama. Pada saat ini timbul kesadaran bahwa setiap benda mempunyai nama. Jadi ada kesadaran tentang bahsa. Anak mengalami peristiwa “lapar-kata” yaitu mau menghafal secara terus menerus kata-kta baru dan ingin memahami atinya. Perbendaharaan kata anak jadi semakin bertambah dengan cepatnya dan anak akan selalu merasa “haus tanya” dengan jalan mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya.
4. Masa Ketiga (24-30 bulan)
Merupakan stadium-flexi. Lambat laun anak mulai menggunakan kata kerja dengan menambahkan awalan, akhiran dan sisipan. Bentuk kalimat-kalimat masih tunggal, kemudian anak mulai menggunakan kata seru , kalimat tanya dan penjelasan. Lalu bisa merangkaikan kalimat-kalimat pendek.
5. Masa Keempat (30 bulan ke atas)
Merupakan stadium anak kalimat. Pertanyaan anak kini sudah menyangkut hubungan waktu (kapan) dan sebab musabab (mengapa).

Berbicara adalah bagian terbesar dari bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Namun bahasa lebih dari sekedar bicara. Bahasa terdiri dari elemen-elemen komunikasi seperti bahasa tubuh, gerak gerik dan kontak mata. Seorang anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Perkembangan bahasa dan bicara pada anak menurut aturan yang normal adalah sebagai berikut:

Sebagai bahan perbandingan, ada pula yang membuat diagram perkembangan bahasa menurut usia anak sebagai berikut:

Umur Anak Ciri atau Tipe Perkembangan Bahasa
6 Bulan • Vokalisasi dengan intonasi
• Merespon namanya
• Menanggapi suara manusia tanpa petunjuk visual dengan memutar kepala dan mata
• Menanggapi secara tepat intonasi ramah atau marah
12 Bulan • Menggunakan satu atau lebih kata dengan makna
• Memahami petunjuk sederhana, terutama jika vokal atau isyarat fisik diberikan
• Praktik infleksi
• Menyadari nilai sosial dari ucapan
18 Bulan • Memiliki kosakata sekitar 5-20 kata
• Kosakata terutama terdiri dari kata benda
• Beberapa echolalia (mengulang kata atau frase berulang-ulang)
• Banyak jargon dengan konten emosional
• Mampu mengikuti perintah sederhana
24 Bulan • Dapat menamai sejumlah objek umum bagi lingkungannya
• Dapat menggunakan setidaknya dua preposisi, biasanya dipilih dari berikut ini: di, pada, di bawah
• Menggabungkan kata-kata menjadi kalimat pendek-terutama kombinasi kata benda-kata kerja
• Sekitar 2 / 3 dari apa yang dikatakan anak dapat dipahami
• Memiliki kosakata sekitar 150-300 kata
• Irama dan kefasihan sering buruk
• Volume dan nada suara belum terkontrol dengan baik
• Dapat menggunakan dua kata ganti dengan benar
• Saya (sebagai subyek) dan saya (sebagai obyek) mulai muncul
• Dapat merespon perintah seperti “tunjukkan matamu”
36 Bulan • Dapat menggunakan kata ganti aku dan kau
• Dapat menggunakan beberapa kata jamak
• Tahu setidaknya tiga preposisi, biasanya di, pada, di bawah
• Tahu bagian tubuh
• Memahami kalimat tiga kata dengan mudah
• Memahami sekitar 900-1000 kata
• Sekitar 90% kata-katanya dapat dipahami
• Verba mulai mendominasi
• Mengerti pertanyaan paling sederhana yang berhubungan dengan lingkungan dan kegiatan
• Menghubungkan antara pengalaman-pengalamannya
• Mampu memberikan alasan dari pertanyaan-pertanyaan seperti “apa yang harus dilakukan ketika kamu mengantuk, lapar, dingin, atau haus?”
• Harus mampu menjelaskan jenis kelamin, nama, usianya
• Walaupun anak mengerti maksudnya, namun belum tentu ia dapat menjawab semua pertanyaan.

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
BAHASA

Menurut pandangan yang nativistik atau organismis maka struktur bahasa telah ditentukan secara biologis. Tokoh yang penting dari pandangan ini adalah ahli linguistic : Noam Chomsky. Chomsky mengatakan bahwa anak lahir ke dunia dengan Language Acquisition Device (LAD) yaitu sifat biologis yang membuat anak dapat mendeteksi bentuk dan aturan tata bahasa termasuk phonology, syntax dan semantics.
Chomsky membuat suatu model untuk menunjukkan bagaimana anak belajar tata bahasa. Model Chomsky dikenal sebagai LAD. Sistem LAD Chomsky menunjukkan bagaimana anak belajar tatabahasa. Sebelum tatabahasa terbentuk pada anak-anak, anak mendapat input dari data bahasa dari lingkungannya. Kemudian LAD menjabarkan aturan tatabahasa dari data input ini. Hal ini dapat dilakukan oleh LAD karena LAD mempunyai struktur internal yang dapat menjabarkan struktur yang sama dari semua bahasa, dan yang juga ada dalam tatabahasa yang masuk tadi. Dengan kata lain, sistem LAD mempunyai sifat-sifat yang diperlukan untuk dapat mengadakan penjabaran atau ekstrasi dari semua bahasa.
Penelitian Neurofisiologis menunjukkan bahwa belajar bicara dan perkembangan Struktur neural yang spesifik yang berhubungan dengan bahasa mempunyai lokalosasi terutama pada hermisfer otak bagian kiri dan keduanya berhubungan erat satu sama lain. Bila terjadi kerusakan hermisfer bagian ini pada tahap awal, maka hermisfer kanan masih bisa mengambil alih fungsi ini.
Bayi yang baru lahir beberapa hari akan menangis dengan intonasi yang mencerminkan bahasa yang digunakan orangtuanya. Bayi mempelajari bahasa yang sering didengarnya itu sejak usia kehamilan trimester ketiga. Kesimpulan yang diambil oleh peneliti dari Jerman adalah janin yang mendengarkan bahasa ibunya selama kehamilan trimester terakhir akan meletakkan dasar-dasar belajar bahasa itu sebelum bayi tersebut dilahirkan.
Sementara itu, aliran empirisme atau behaviorisme justru berpandangan sebaliknya, yaitu bahwa kemampuan perkembangan berbahasa seseorang tidak ditentukan oleh bawaan sejak lahir melainkan ditentukan oleh proses belajar dari lingkungan sekitarnya. Jadi, menurut aliran ini proses belajarlah yang sangat menentukan kemampuan perkembangan bahasa seseorang. Dari perspektif ini, meskipun kemampuan bahasa orang tuanya kurang baik dan lambat tetapi jika proses stimulasi dan proses belajar dilakukan secara intensif dengan lingkungan berbahasa secara baik dan cepat, kemampuan perkembangan bahasa anak menjadi baik dan cepat.
Memang teori belajar dapat memberikan pengertian mengenai peranan interaksi antara ibu dengan anaknya yang sedang belajar bahasa, interaksi bahasa antara ibu dan anak menentukan apakah anak dapat meluaskan kompetensi bahasanya atau tetap tinggal pada kompetensi yang relatif sederhana, anak belajar untuk meluaskan kalimat.
Adapun aliran lain yang cenderung lebih moderat, yaitu aliran konvergensi mengajukan pandangan yang merupakan kolaborasi dari faktor bawaan dan pengaruh lingkungan. Faktor bawaan yang kuat pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa seseorang adalah aspek kognitif. Kemampuan berbahasa seseorang banyak dipengaruhi oleh kapasitas kemampuan kognitif seseorang, sedangkan faktor lingkungan yang berpengaruh antara lain adalah besarnya kesempatan yang diperoleh dari lingkungannya.
Diagram di bawah ini menunjukkan kompleksitas dari terjadinya sebuah komunikasi yang dikenal dengan Means, reasons and opportunities model

Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
1.Kognisi
Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang.
2.Pola komunikasi dalam keluarga
Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah atau interaksinya relatif demokratis akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya dibanding yang menerapkan komunikasi dan interaksi sebaliknya.
3.Jumlah anak atau jumlah keluarga
Suatu keluarga yang memiliki banyak anak atau banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.
4.Posisi urutan kelahiran
Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak tengah memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.
5.Kedwibahasaan (Bilingualisme)
Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi.

BAB III.
BEBERAPA ARTIKEL PENELITIAN YANG BERKAITAN DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK

Dalam penulisan ini akan ditampilkan 2 penelitian dan 1 artikel yang berhubungan dengan perkembangan bahasa:
1. Associations Between Breastfeeding Practices and Young Children’s
Language and Motor Skill Development
2. Early Word-Object Associations and Later Language Development
3. Early Childhood Language Development and Games to Stimulate It
Hasil dari penelitian-penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Associations Between Breastfeeding Practices and Young
Children’s Language and Motor Skill Development

Penelitian ini dilakukan terhadap 22.399 anak dari Survei Kesehatan Anak Nasional 2003. Penelitian ini bertujuan mempelajari hubungan antara kegiatan menyusui dengan perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anak. Hasilnya didasarkan pada respon ibu terhadap pertanyaan tingkat kekhawatiran mereka (banyak, sedikit, tidak sama sekali) terhadap perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anak mereka.
Usia rata-rata dari sampel adalah 2.79 tahun. Sebayak 67% berasal dari ras non Hispanik kulit putih, 16% Hispanik dan 9% non Hispanik kulit hitam. Berdasarkan hasil analisis Multivariat diketahui bahwa ibu yang menyusui lebih sedikit tingkat kekhawatirannya terhadap perkembangan bahasa dan kemapuan motorik anaknya daripada ibu yang tidak pernah menyusui.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pada adanya hubungan antara kegiatan menyusui dengan perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anak.
Penelitian menunjukkan anak-anak yang tidak diberi ASI akan memiliki peningkatan risiko mengalami penyakit saluran pernapasan otitis media, diare, necrotizing enterocolitis, dernutrition, dan kelebihan berat badan, sedangkan resiko kesehatan bagi ibu yang tidak menyusui adalah peningkatan risiko kehilangan darah pasca-melahirkan, premenopause, kanker payudara, dan kanker ovarium. Mengingat pentingnya ASI ini maka The American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif untuk pertama 6 bulan kehidupan, diikuti oleh pengenalan secara bertahap pelengkap makanan bayi, dengan tetap melanjutkan pemberian ASI untuk setidaknya tahun pertama kehidupan.
Ada empat pertanyaan yang digunakan untuk mengukur tingkat kekhawatiran/keprihatinan orang tua (banyak, sedikit atau tidak sama sekali) terhadap perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anak. Perkembangan bahasa yang dilihat adalah bahasa ekspresif (aktif), bahasa reseptif (pasif), sedangkan untuk perkembangan motorik yang dilihat adalah motorik halus dan motorik kasar. Namun yang akan dibahas adalah perkembangan bahasa saja.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah seberapa besar kekhawatiran anda (banyak, sedikit, tidak sama sekali) terhadap cara anak anda:
1. Berbicara atau membuat bunyi-bunyi ujaran? (bahasa ekspresif)
2. Mengerti apa yang anda katakan? (bahasa reseptif)
3. Menggunakan jari-jarinya untuk melakukan sesuatu? (motorik halus)
4. Menggunakan tangan dan kakinya? (motorik kasar)
Penelitian ini menemukan bahwa kegiatan menyusui dapat melindungi anak dari keterlambatan dalam kemampuan berbahasa dan motorik anak. Kekhawatiran yang lebih sedikit ditemukan pada anak-anak yang menyusu lebih dari 3 bulan dan secara umum, kekhawatiran ini akan menurun lagi jika kegiatan menyusu berlanjut hingga 9 bulan atau lebih.
Dalam penelitian ini ditemukan bukti adanya hubungan yang signifikan antara inisiasi menyusui dan berkurangnya tingkat kekhawatiran ibu terhadap perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anaknya. Jika dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui, maka ibu yang menyusui 22% lebih rendah rasa kekhawatirannya terhadap perkembangan bahasa ekspresif anaknya dan 30% lebih rendah kekhatirannya terhadap perkembangan bahasa reseptif.
Sehubungan dengan perkembangan bahasa ini, pada usia 2 bulan, bayi memang sudah membedakan suara satu dengan lainnya, serta memberi respon dengan tersenyum atau tertawa. Sampai usia 6 bulan bayi sudah bisa mengeluarkan ocehan atau lontaran suara. Di usia 8 bulan, ia sudah mengerti beberapa suara dan kata. Hal ini sangat berguna untuk membantu perkembangan pemahamannya. Ia pun mulai bisa berteriak untuk mencari perhatian, berespon kala namanya dipanggil, dan tertarik saat ada orang berbicara meski tak langsung tertuju pada dirinya. Oleh karena itu untuk mengembangkan kemampuan komunikasi buah hati Anda, berikan banyak rangsangan pada semua panca indera bayi, terutama agar ia melihat ekspresi orangtua ketika berbicara dengannya.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (a) kegiatan menyusui dapat melindungi anak dari keterlambatan bahasa dan kemampuan motorik, (b) adanya hubungan yang signifikan antara kegiatan menyusui dan berkurangnya tingkat kekhawatiran ibu terhadap perkembangan bahasa dan kemampuan motorik anaknya. Beberapa analisa sederhana yang dapat menjelaskan hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
(1) Seperti diketahui, pemrosesan bahasa pada otak manusia terdapat pada lobus temporal dan secara umum bicara dan tata bahasa ditangani oleh hemisfer kiri dari otak manusia. Dari uruaian ini jelas bahwa “kesehatan” otak sangat berpengaruh pada perkembangan anak termasuk juga perkembangan bahasanya.
(2) Pertumbuhan otak yang baik juga ditentukan oleh pemberian ASI. Menurut penelitian, anak yang diberikan ASI, tingkat IQ-nya berbeda 12,9 poin di atas anak yang tidak diberi ASI pada anak usia 9,5 tahun. Perkembangan kognitif anak, daya ingat dan kemampuan bahasa pada anak yang mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula. Hal ini jelas bahwa pemberian ASI melalui kegiatan menyusui dapat melindungi anak dari keterlambatan bahasa.
(3) Seperti disebutkan sebelumnya, teori konvergensi mengajukan pandangan yang merupakan kolaborasi dari faktor bawaan (nature) dan pengaruh lingkungan (nurture). Faktor bawaan (nature) yang merupakan sebuah potensi harus pula didukung oleh adanya stimulasi (nurture) dari lingkungan dimana anak berada. Dengan kegiatan menyusui, banyak sekali interaksi yang terjadi antara ibu dan anaknya. Ibu dapat berkomunikasi dengan anaknya melalui kata-kata, nyanyian, cerita, pujian, mimik wajah dan do’a-do’a yang kesemuanya itu akan memperkaya tabungan bahasanya.
(4) Penelitian menunjukkan bahwa janin mampu membentuk kenangan selama di dalam rahim terutama terhadap suara-suara yang familier seperti suara ibunya. Kegiatan menyusui tentu akan menghidupkan “kenangan masa lalunya” di dalam rahim sehingga mempermudah proses perkembangan bahasa yang berlangsung.
(5) Selain itu, ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim. Penelitian menunjukkan bahwa janin mampu membentuk kenangan selama di dalam rahim terutama terhadap suara-suara yang familier seperti suara ibunya. Dalam kondisi yang seperti ini, tentu kita tidak akan menyangkal bahwa perkembangan anak akan berlangsung secara optimal.

2. Early Word-Object Associations and Later Language
Development
Pemahaman dan keterampilan berbahasa pada anak-anak di bawah usia dua tahun sangat bervariasi pada setiap individu (Fenson et al., 1994). Sebagian anak sudah daapat merangkai kata menjadi frase, sementara yang lainnya baru dapat mengeluarkan beberapa kata-kata tunggal. Variasi ini menjadi sebuah tantangan untuk mengidentifikasi apakah kemampuan hal tersebut merupakan keterlambatan saja atau karena adanya gangguan (Rescorla, 1989). Identifikasi awal ini penting dilakukan untuk melihat apakah anak yang menerima intervensi akan memaksimalkan potensi mereka (Aram & Hall, 1989; Bernhardt & Mayor, 2005; Magnusson & Naucler, 1998).
Penelitian ini adalah sebuah penyelidikan eksplorasi hubungan antara kemampuan balita dalam mengasosiasi kata dan objek dan kemampuan berbahasa mereka di kemudian hari. Ini merupakan langkah pertama dalam menentukan apakah tugas seperti itu mungkin dapat memberikan kontribusi dalam penyaringan bahasa pada balita sehingga dapat melihat kemungkinan keterlambatan atau gangguan berbahasa. Dalam penelitian ini disajikan hasil studi longitudinal dimana balita diberi tugas untuk mengasosiasikan kata dan objek berdasarkan waktu (Stager & Werker, 1997) dan hubungannya dengan ketrampilan berbahasa anak di kemudian hari. Kemampuan mengasosiasi kata dan objek pada usia 17 atau 20 bulan secara signifikan berhubungan dengan skor pada tes standar bahasa sampai dua setengah tahun kemudian.
Para peserta untuk studi saat ini telah ambil bagian dalam studi prosedur Switch (Werker et al, 2002) pada usia 17 tahun atau 20 bulan. Mereka semua lahir normal dalam usia 37 minggu kehamilan dan memiliki kesehatan yang baik pada tes awal dan tes lanjutan.
Sebanyak 32 anak yang berpartisipasi dalam studi Switch-Task diundang untuk berpartisipasi dalam dua percobaan tindak lanjut. Orang tua dari 26 anak setuju untuk mengikuti percobaan pertama (tahap satu) dan setelah 14 bulan kemudian, orang tua dari 15 anak-anak ini setuju untuk berpartisipasi dalam test lanjutan (tahap 2).
The Switch-Task digunakan untuk menguji asosiasi kata-obyek pada bayi 8-20 bulan (Werker et al., 1998). Dalam prosedur ini, bayi terbiasa dengan satu atau lebih pasangan antara benda-benda yang bergerak pada layar dan kata-kata yang disajikan lebih dari seorang pembicara. Kemampuan melakukan asosiasi kata dan obyek diukur dengan Switch-Task yang berhubungan secara signifikan dengan kemampuan berbahasa anak 1 atau 2 tahun kemudian baik pengucapan maupun tata bahasanya.
Dalam penelitian ini terlihat korelasi yang signifikan dari kekuatan melakukan asosiasi pasangan kata dan obyek dengan nilai standar dari test bahasa pada test tahap kedua sampai 2 atau 2.5 tahun ke depan. Pengenalan kata pada usia 25 bulan dapat memprediksi pertumbuhan dari produksi (pengucapan) kosa kata terutama pada tahun kedua kehidupannya.
Analisa yang dapat disampaikan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah bahwa untuk memperoleh informasi, cara terbaik adalah melakukannya secara sinkron dengan mata dan telinga (audio-visual). Dan yang penting diperhatikan dalam belajar bahasa bayi adalah adanya suara latar. Meskipun sumber suara tidak terlihat tetapi cukup mengganggu proses belajar dan kemampuan bayi menangkap informasi.
Dalam sebuah penelitian juga telah dibuktikan dengan perlakuan kepada bayi yang didengarkan dua video sekaligus, di sebelah kiri dan kanan. Yang menjadi bahan pengamatan para peneliti adalah lama rentang perhatian bayi kepada dua sumber suara yang disampaikan tayangan video tersebut. Hasilnya, para bayi memusatkan perhatian rata-rata 2 detik lebih lama pada tayangan video yang memperdengarkan kata yang sinkron dengan gambar , kemudian dibandingkan dengan bayi yang diputarkan video dengan kata-kata yang tidak sinkron dan tidak relevan. Pada bayi yang diputarkan video dengan kata-kata yang tidak sinkron, hasilnya para bayi bahkan tak dapat menangkap satupun kata baru.
Sehubungan dengan “looking time” ini, hasil penelitian menunjukkan “looking time” yang lebih lama pada “switch trial” (kombinasi kata-object yang baru) daripada “same trial” (kombinasi kata-obyek yang familier). Jadi anak-anak memang lebih mudah untuk mengingat sesuatu yang pernah ia lihat atau ia dengar sebelumnya.
Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan,tanda, symbol atau bahasa isyarat. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Sehubungan dengan hal itu pula, maka dapat dijelaskan bahwa anak akan lebih mudah memahami sesuatu yang diperkenalkan melalui persepsi intermodal. Persepsi intermodal meliputi penggabungan informasi dari dua atau lebih modalitas sensorik, seperti penglihatan dan pendengaran. Dalam sebuah studinya, Spelke & Owsley (1979) menemukan bahwa bayi berumur 3,5 bulan lebih lama menatap ibu mereka jika mereka juga mendengar suara ibu mereka.
Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa The Switch-Task pada bayi berhubungan secara signifikan dengan kemampuan bahasa anak saat usia prasekolah baik dalam pengucapan maupun tata bahasanya. Seperti disebutkan dalam tujuan penelitian ini, Switch-Task ini juga berguna untuk mengidentifikasi awal keterlambatan berbahasa.
Sehubungan dengan keterlambatan ini, ada beberapa tahap bicara yang dapat dijadikan parameter. Seperti telah dijelaskan bahwa semakin dini diketahui adanya gangguan perkembangan, semakin cepat dapat dilakukan intervensi berupa stimulasi. Orangtua harus mulai waspada bila :
• Pada usia 6 bulan, bayi tidak melirik atau menoleh pada sumber suara
yang datang dari belakang atau sampingnya
• Pada usia 10 bulan, bayi tidak merespons bila dipanggil namanya
• Pada usia 15 bulan, anak tidak mengerti atau merespons terhadap kata “tidak” atau “jangan”
• Pada usia 21 bulan, anak tidak merespons terhadap perintah : duduk
kesini, atau berdiri
• Pada usia 24 bulan, anak tidak dapat menunjuk dan menyebutkan bagian tubuh seperti mulut, hidung, mata atau kuping

3. Early Childhood Language Development and Games to
Stimulate It

Anak-anak belajar bahasa dengan cara berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka. Siapa pun yang menyaksikan seorang anak menjadi komunikator yang terampil akan setuju bahwa ini adalah proses perkembangan bahasa merupakan sebuah proses yang indah. Dalam hidupnya, seorang anak siap untuk belajar bahasa sebagai antara 0 dan 3 tahun.
Menurut Elaine Weitzman dan Janice Greenberg dalam buku mereka Belajar Bahasa dan Loving It (The Hanen Centre, 2002) para peneliti telah menetapkan bahwa tiga tahun pertama kehidupan adalah “periode kritis” bagi perkembangan bahasa. Ini berarti bahwa anak-anak dalam kelompok usia ini secara optimal siap untuk belajar bagaimana untuk berkomunikasi. Mereka secara alami tertarik dalam berkomunikasi dan belajar adalah proses yang terjadi secara spontan.

Karakteristik Bahasa Toddler
Agar orang tua dapat menjadi partner komunikasi yang baik, penting untuk memahami bagaimana mereka memahami bahasa yang digunakannya. Dalam belajar bagaimana berkomunikasi, balita menempel beberapa aturan dasar:
• Mereka harus memahami kata-kata sebelum mereka dapat menggunakannya.
• Mereka perlu mendengar kata yang diulang ratusan kali sebelum mereka akan mengatakan itu.
• Mereka akan menggunakan kata-kata sehari-hari sebelum mereka menggunakan kata-kata yang lebih sulit.
• Mereka menyederhanakan pengucapan kata-kata (dog  do dan bottle  botie).
• Mereka suka menggunakan struktur suku kata sederhana seperti “baa” untuk “domba”.
• Mereka memiliki kosakata yang sederhana yang terdiri dari: nama-nama benda-benda di lingkungan mereka (seperti “mama”), kata-kata tindakan (seperti “naik”), kata-kata sosial (seperti “halo”) dan deskripsi kata-kata (seperti “besar”).
• Mereka menggunakan satu kata untuk banyak tujuan yang berbeda, misalnya “mama” bisa berarti “aku mau jus” atau “aku mau boneka”.

Perkembangan Bahasa pada Balita
Antara umur 1 dan 3 tahun balita kemajuan melalui tiga tingkat perkembangan komunikasi. Rentang usia hanya sebagai pedoman karena ada anak-anak yang dapat menguasai keterampilan ini lebih awal atau justru lebih lambat.
Pada 12 sampai 18 bulan anak-anak mulai:
• Menggunakan kata-kata tunggal pertama mereka (10-20 kata).
• Menggunakan satu kata untuk menjelaskan banyak hal.
• Meniru kata-kata dan suara binatang.
• Memberi nama pada gambar dalam sebuah buku cerita.

Selama 18 sampai 24 bulan, balita mulai menaruh kata-kata bersama-sama dalam kalimat. Mereka biasanya:
• Mulai menggunakan dua kata dalam sebuah kalimat secara teratur.
• Perbendaharaan kosakata berkembang pesat.
• Mengajukan banyak pertanyaan.
• Menceritakan apa yang mereka alami.
Pada 24 – 36 bulan balita menggunakan kalimat yang panjang, antara lain:
• Meletakkan tiga, empat dan lima kata bersama-sama dalam kalimat.
• Menggunakan lebih banyak bahasa yang benar.
• Mulailah menggunakan kata tanya “mengapa” .
• Mulai bercerita.

Permainan Bahasa untuk Balita 12-18 Bulan
Blowing Bubbles adalah permainan interaksi klasik. Kontak mata secara alami pada saat anak mencermati adanya gelembung-gelembung yang datang berrikutnya. Kosakata yang digunakan selama permainan ini sangat ideal untuk anak yang baru mulai belajar bicara seperti: lebih, banyak, gelembung, tiup, tangkap, semua pergi dan bagus.

Permainan Bahasa untuk Balita 18-24 Bulan
Berbagi Buku adalah penting selama tahap ini. Meskipun anak-anak yang lebih muda dapat menikmati buku-buku juga, namun pada tahap ini cerita sederhana lebih memikat perhatian seorang pembicara pemula. Pastikan untuk melakukan kontak mata dengan anak dan berbagi buku dengan menunjuk ke gambar dan kata-kata. Kosakata akan tergantung pada cerita jadi pastikan bahwa buku ini sesuai untuk tingkat seusianya.

Permainan Bahasa untuk Balita 24-36 Bulan
Mengadakan permainan “pesta teh” merupakan interaksi yang menyenangkan bagi anak laki-laki maupun perempuan. Permainan ini kaya dengan kesempatan untuk berlatih keterampilan sosial seperti mengucap salam dan berkata silakan atau terima kasih. Permainan akan lebih menyenangkan jika dilakukan bersama-sama dan saling meminta makanan atau minuman seperti susu, gula dan kue.

BAB. IV
P E N U T U P

Dalam bab penutup ini akan disampaikan keterkaitan antara ketiga artikel yang telah ditampilkan sebelumnya yaitu tentang kegiatan menyusui dan kegiatan switch-task dalam hubungannya dengan perkembangan bahasa anak dan juga kegiatan permainan yang sesuai untuk perkembangan bahasa.
Perkembangan bahasa adalah suatu proses yang terjadi secara bertahap dan orang tua dapat membantu anak-anaknya dengan berinteraksi dengan mereka pada tingkat yang sesuai dengan tahap perkembangannya dan dengan hal-hal yang menarik perhatian anak-anak.
Pemberian ASI melalui kegiatan menyusui menjadi hal yang sangat penting bagi perkembangan bahasa anak. Selain mendapat asupan gizi yang bermanfaat untuk perkembangan otaknya, dengan kegiatan menyusui ini, akan terjalin bonding yang kuat antara ibu-anak dan hal ini akan sangat membantu proses perkembangan anak termasuk perkembangan bahasanya.
Dalam hubungannya dengan artikel penelitian yang kedua, kegiatan switch task yang dilakukan juga berkaitan dengan persepsi intermodal dimana terjadi penggabungan moda audio (pendengaran) dan visual (penglihatan). Kegiatan ini, jika dikaitkan dengan penelitian pertama jelas bahwa penggabungan intermodal ini akan membuat proses perkembangan bahasa anak menjadi lebih optimal seperti ketika anak dalam janin merekam kenangan terhadap suara ibunya dan akan mempermudah anak untuk belajar bahasa melalui bahasa ibunya yang telah ia “kenal” sebelum ia lahir ke dunia.
Kegiatan menyusui merupakan kegiatan intim antara ibu dan anak, dimana di dalamnya terdapat begitu banyak pendidikan. Suara ibu yang didengarnya melalui cerita, ungkapan, nyanyian dan do’a akan di-match dengan memori rekaman suara ibunya saat ia masih di dalam rahim. Melalui eksperimen yang mengukur perilaku menghisap, peneliti menemukan bahwa bayi yang baru lahir lebih menyukai rekaman suara ibunya dibandingkan dengan suara wanita lain yang tidak dikenal (Flohr, 2001; Mehler, 1988; Spencer & DeCasper, 1987).
Selanjutnya, hal yang juga tidak kalah penting untuk dilakukan adalah terus menstimuli anak dengan kegiatan-kegiatan yang menunjang. Kegiatan-kegiatan ini merupakan kegiatan permainan yang memfasilitasi perkembangan bahasa anak sampai usia 3 tahun yang ditampilkan dalam artikel ketiga.
Piaget dan Vigotsky (1962) sepakat bahwa permainan adalah aktivitas yang dapat mendorong perkembangan kognitif anak. Permainan juga penting bagi kesehatan anak. Permainan dapat mengendurkan ketegangan, mempercepat perkembangan kognitif dan meningkatkan eksplorasi. Permainan juga meningkatkan afiliasi dengan sebaya, meningkatkan kemungkinan anak saling berinteraksi dan berbincang-bincang atau berkomunikasi. Selama interaksi ini, anak-anak mempraktekkan peran yang akan mereka emban kelak dalam kehidupan.
Tampak dengan jelas dalam artikel ini betapa permainan-permainan yang dilakukan akan sangat membantu perkembangan bahasa anak-anak, baik dalam hal penambahan kosa kata ataupun cara anak-anak berkomunikasi dengan orang lain dan juga memahami apa yang disampaikan oleh orang lain. Hal ini sesuai dengan pandangan Hurlock (1978), bahwa dalam bermain anak-anak harus belajar untuk dapat berkomunikasi dengan teman-temannya dan sebaliknya iapun harus belajar untuk dapat memahami apa yang disampaikan oleh orang lain, sehingga dapat dikatakan dalam kegiatan bermain ini terjadi proses perkembangan bahasa pada anak sesuai dengan tahapannya.
Kesimpulannya adalah bahwa perkembangan bahasa anak adalah sesuatu yang telah dimulai sejak anak masih dalam kandungan dan dengan pemberian ASI dan stimulasi positif, maka kemampuan bahasa anak akan berkembang secara optimal dan sesuai dengan tahap perkembangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, R.L. & Atkinson, R.C. Pengantar Psikologi (Terjemahan). Jakarta : Erlangga, 1983

Hurlock, E.B. Child Development (Sixth Edition). New York : McGraw-Hill, 1978

Kartono, K. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung : Mandar Maju, 2007

Lerner, R.M & Hultsch, D.F. Human Development (A Life-Span Perspective). New York : McGraw-Hill, 1983

Moshman, D., Glover, J.A. & Bruning, R.H. Developmental Psychology. Canada : Little, Brown & Company, 1987.

Santrock, J.W. Child Development (Twelfth Edition). New York : McGraw-Hill, 2009

Santrock, J.W. Perkembangan Anak (Terjemahan). Jakarta : Erlangga, 2007

http://valmband.multiply.com/journal/item/18/Perkembangan_Bahasa

http://speechclinic.wordpress.com/2009/04/25/baby-sign-atau-bahasa-isyarat-pada-bayi-apakah-itu/

http://www.sejenak-kemudian.co.cc/2008/11/perkembangan-bahasa-anak.html

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/m-genetics/1944697-tangis-bayi-tiru-bahasa-ibu/

http://202.146.5.33/ver1/Kesehatan/0710/01/140632.htm

http://sasino.info/2009/12/perkembangan-bicara-pada-anak/

http://www.childdevelopmentinfo.com/development/language_development.shtml

http://202.146.5.33/ver1/Kesehatan/0710/01/140632.html

http://februar.multiply.com/reviews/item/5

http://www.allacademic.com/meta/p_mla_apa_research_citation/0/9/4/3/0/p94304_index.html

http://rumahsehat.com/news/06112008/fase-belajar-bahasa-bayi/

http://rafikamilani.multiply.com/journal/item/7

http://www.adders.org/infosheet105b.gif