Blog tentang Ilmu Keluarga dan Anak

Just another WordPress.com site

Berbagi Agustus 23, 2010

GAK CUKUP SEKEDAR BACA TULIS

Hal tersebut di atas  juga diungkapkan oleh Mr. Rothan saat acara OBRAS DASI di TK Islam AULIA, 19 Agustus 2010 silam.  Seorang anak harus mengerti apa yang ia baca, sehingga ia dapat membaca apa yang ada di lingkungannya.

Yang harus lebih diperhatikan oleh para orang tua dan guru, ungkapnya, adalah menanamkan sikap rasa ingin tau, sehingga anak memahami mengapa ia harus belajar, mengapa anak harus bisa membaca.  Yang jadi permasalahan, banyak orang tua yang merasa bangga jika anaknya sudah mahir membaca setiap tulisan yang ada di sekitarnya.  Anak tidak didorong untuk memahami apa yang dibacanya dan mengapa ia harus terus membaca dan belajar dari lingkungan sekitarnya.

Membaca adalah hal yang sangat penting dan termasuk kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang anak.  Dengan membaca anak menjadi tahu banyak hal dan akan mendorong minatnya untuk terus belajar.  Tetapi tahapan untuk menuju kesana menjadi hal yang lebih penting.  Biasakan anak sedini mungkin untuk membuka buku-buku dengan berbagai gambar dan tulisan, orang tua atau guru sering menceritakan dongeng atau cerita-certia yang menarik, ajak anak untuk mengungkapkan pendapatnya, ajak anak bernyanyi dan kegiatan lainnya yang mendorong anak untuk membangun pengetahuannya sendiri.  Dengan begitu anak tidak sekedar tahu huruf  b + u + k + u menjadi buku, tetapi lebih dari itu, ia tahu buku itu seperti apa, apa yang ada di dalamnya, apa kegunaannya dan lain sebagainya.  Akhirnya pengetahuannya akan berkembang lebih dari sekedar rangkaian huruf demi huruf belaka.

Bagaimana dengan anak yang tidak punya motivasi buat belajar atau membaca?  Menurut beliau, setiap anak pasti punya minat pada sesuatu. Dari minatnya itulah motivasi bisa dibangkitkan.  Misalnya, seorang anak berminat besar dalam hal mobil.  Belikan saja buku-buku tentang mobil yang pasti akan menarik perhatiannya.  Dari buku itu, pasti ia akan bertanya nama mobil itu, berapa harganya, dimana ia dapat membelinya.  Dari sanalah kita memotivasinya dengan misalnya mengatakan, “Wah, kalau mau tahu jawabannya kita harus bisa baca dulu ya…”, sambil anak terus digiring ke arah pembelajaran yang lebih terarah.  Atau menurut saya, bisa juga, kita memasang huruf-huruf di atas mobil-mobilannya atau membuatkan garasi-garasi kecil dari bekas kotak obat yang ada huruf atau angka-angka, sehingga tanpa sadar, anak-anak sedang berjalan menuju sebuah proses yang lebih bermakna.

Yang lebih penting lagi, orang tua tidak lantas merasa bangga jika anak-anaknya sudah dapat membaca sejak usia dini.  Sekali lagi, ,membaca memang penting, namun yang tidak kalah pentingnya adalah “membaca lingkungan” dalam arti anak memiliki sikap peka terhadap lingkungannya.  Ia harus tumbuh menjadi anak yang peduli pada sekitarnya, sayang pada temannya, berbicara lembut pada orang tua, guru dan teman-temanya, mau berbagi, mau bersikap sportif, bertanggung jawab dan lain sebagainya.  Disinilah pentingnya pendidikan karakter, dimana anak diajak untuk memahami bahwa ia adalah bagian dari alam ini, sehingga sekecil apapun kebaikan atau keburukan  yang ia lakukan pasti akan berdampak bagi lingkungannya dan juga bagi dirinya sendiri.  Kalau seseorang sudah memiliki kesadaran bahwa semua yang dilakukan pasti akan berdampak bagi dirinya, mudah-mudahan yang ia lakukan hanyalah hal terbaik saja, karena setiap orang pasti ingin mendapat dampak yang baik juga kan?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s